Trump Ancam Iran, Bursa Jepang dan Korea Selatan Rontok

Bursa Jepang dan Korea Selatan

Kepanikan melanda pasar keuangan Asia-Pasifik pada perdagangan awal pekan, Senin (23/3/2026). Indeks saham utama di Jepang dan Korea Selatan anjlok lebih dari lima persen akibat memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kini memasuki minggu keempat. Para investor merespons negatif eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mengancam stabilitas rantai pasokan energi global. Sentimen penghindaran risiko (risk-off) menyebar dengan cepat ke seluruh bursa kawasan seiring dengan meningkatnya ancaman serangan militer terhadap infrastruktur vital.

Baca Juga : “Laba Bank Jago (ARTO) Melonjak 115% Sepanjang 2025“

Ultimatum Keras Trump dan Ancaman Balasan Iran

Kekacauan di pasar saham bermula dari pernyataan tegas Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada akhir pekan lalu. Trump mengeluarkan ultimatum 48 jam yang mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik utama Iran. Tindakan militer ini akan Amerika Serikat lakukan jika Teheran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz, jalur perairan sempit dan sangat strategis yang melayani sekitar 20 persen dari total distribusi minyak dunia.

Pemerintah Iran langsung merespons ancaman tersebut dengan sikap yang agresif. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa setiap serangan terhadap fasilitas negaranya akan memicu serangan balasan berskala masif. Melalui platform media sosial X, Ghalibaf memperingatkan bahwa infrastruktur energi dan fasilitas minyak di seluruh kawasan Teluk akan menjadi target sah yang akan militer Iran hancurkan secara permanen.

Eskalasi verbal ini semakin memburuk pada hari Minggu (22/3/2026). Ghalibaf memperluas daftar target serangannya hingga mencakup para pemegang obligasi pemerintah AS (U.S. Treasurys). Ia mengancam bahwa setiap entitas keuangan yang membeli obligasi tersebut sama saja dengan membiayai mesin militer Amerika Serikat, sehingga mereka pantas bernasib sama dengan pangkalan militer AS yang berada di kawasan tersebut.

Rontoknya Bursa Saham Asia dan Tekanan di Wall Street

Ancaman perang energi yang nyata ini memicu aksi jual besar-besaran di bursa saham Asia. Di Jepang, indeks Nikkei 225 terperosok hampir lima persen untuk memperlebar kerugian dari sesi sebelumnya. Sementara itu, indeks Topix yang mengukur kinerja pasar secara lebih luas juga turun tajam sebesar 4,4 persen.

Kondisi yang lebih parah terjadi di Korea Selatan. Indeks Kospi yang berisi saham-saham unggulan (blue-chip) anjlok lebih dari enam persen. Kepanikan ini memaksa otoritas bursa setempat untuk menghentikan sementara perdagangan (trading halt) setelah indeks berjangka Kospi 200 anjlok melewati batas lima persen. Indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq juga merosot hampir lima persen. Pelemahan regional ini turut menyeret indeks S&P/ASX 200 di Australia turun 2,4 persen, serta menekan indeks Hang Seng dan Hang Seng Tech di Hong Kong masing-masing sekitar dua persen pada awal sesi perdagangan.

Kehancuran bursa Asia ini mencerminkan tren negatif yang sudah lebih dulu melanda Wall Street pada penutupan perdagangan pekan sebelumnya. Tiga indeks utama AS mencatatkan kinerja buruk. Indeks S&P 500 anjlok lebih dari 1,5 persen dan tergelincir di bawah rata-rata pergerakan 200 harinya untuk pertama kalinya sejak bulan Mei tahun lalu. Indeks Dow Jones juga mencatatkan penurunan mingguan keempat secara berturut-turut, yang menjadi rentetan terburuk sejak tahun 2023.

Anomali Harga Minyak dan Proyeksi Pasar ke Depan

Meskipun ancaman penutupan Selat Hormuz sangat nyata, harga minyak mentah justru menunjukkan pergerakan yang tertahan pada awal perdagangan Asia. Harga minyak mentah berjangka Brent sedikit melemah 0,25 persen menjadi 111,97 dolar AS per barel. Di saat yang sama, acuan West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 0,6 persen ke level 97,64 dolar AS per barel.

Fenomena yang paling menjadi sorotan para analis adalah melebarnya selisih (spread) harga antara Brent dan WTI yang melampaui 14 dolar AS per barel. Ini merupakan kesenjangan terbesar antara acuan minyak internasional dan Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir, yang mencerminkan risiko geopolitik murni di kawasan Timur Tengah dibandingkan dengan pasokan domestik AS.

Kepala Strategi Pasar di Strategas Research, Chris Verrone, memberikan pandangannya terkait dinamika harga ini. Saat berbicara dalam program “Squawk Box Asia” di jaringan CNBC, Verrone menyatakan bahwa kesenjangan harga yang melebar tajam ini menandakan puncak intensitas krisis minyak. Ia menambahkan bahwa bertahannya harga patokan Brent di level yang sangat tinggi mengindikasikan para pelaku pasar mulai memperkirakan konflik geopolitik ini akan berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.

Ke depan, krisis geopolitik yang mengancam pasokan energi dari Timur Tengah ini berpotensi merusak rantai pasokan dan memicu lonjakan inflasi global yang baru. Jika pergerakan kapal tanker di Selat Hormuz benar-benar lumpuh, biaya logistik dan harga energi dunia akan meroket tak terkendali. Pelaku pasar kini harus bersiap menghadapi volatilitas ekstrem dalam beberapa pekan ke depan, sembari terus memantau apakah diplomasi internasional dapat mencegah pecahnya perang energi berskala penuh yang berisiko melumpuhkan pemulihan ekonomi global.

Baca Juga : “Investor Tunggu Data Penting dari Korea & Jepang, Bursa Asia Hijau“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *