Gejolak Bursa Saham Global Dipicu Oleh Ketidakpastian Tarif Dagang AS
Ketidakpastian pasar saham global sepanjang 2025 banyak dipengaruhi oleh kebijakan tarif dagang yang diterapkan oleh Amerika Serikat (AS). Kebijakan tersebut menimbulkan tekanan terhadap bursa saham, terutama di pasar domestik dan AS, dengan fluktuasi signifikan akibat kekhawatiran pelaku pasar terhadap dampak ekonomi jangka menengah.
Tarif dagang yang dikenakan AS menjadi sinyal proteksionisme yang meningkatkan sentimen negatif di pasar keuangan. Imbasnya, indeks saham utama di Wall Street mengalami gejolak, memicu ketidakstabilan dalam arus modal global. Faktor ini menjadi tantangan besar bagi investor yang mencari arah di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi.
Menurut riset PT Ashmore Asset Management Indonesia, tekanan dari tarif dagang ini diperparah dengan pergeseran fokus pasar dari isu inflasi ke kondisi ketenagakerjaan di AS. Tingkat pengangguran yang mencapai 4,6% pada akhir 2025 menjadi tertinggi sejak 2021, menunjukkan adanya pelemahan ekonomi yang tak dapat diabaikan.
Baca Juga : “Penjualan Anjlok di China, Saham Nike Turun Tajam“
The Fed Dihadapkan pada Dilema Kebijakan Suku Bunga
Di sisi lain, bank sentral AS, the Federal Reserve (The Fed), menghadapi tekanan berat terkait suku bunga. Meskipun tren global menunjukkan penurunan suku bunga, The Fed belum mengambil langkah serupa karena khawatir terhadap ketidakpastian fiskal dan stabilitas inflasi. Suku bunga kebijakan sempat turun, namun belum cukup untuk menurunkan imbal hasil obligasi jangka panjang secara konsisten.
Investor tetap cemas terhadap potensi risiko dari sisi inflasi dan ketahanan fiskal AS. Ketidakpastian ini mempersulit The Fed dalam memberikan sinyal arah kebijakan yang meyakinkan. Di tengah ekspektasi pemangkasan suku bunga global, stagnasi The Fed justru menjadi sumber volatilitas baru di pasar saham dan obligasi.
“Imbal hasil jangka panjang tetap tinggi meskipun suku bunga acuan turun, karena investor menilai masih ada risiko inflasi dan defisit fiskal,” dikutip dari laporan Ashmore, Minggu (21/12/2025).
Tema Kecerdasan Buatan (AI) Dominasi Bursa AS
Meskipun kondisi makroekonomi bergejolak, pasar saham AS tetap menunjukkan daya tarik tersendiri. Salah satu motor penggerak utama adalah teknologi Kecerdasan Buatan (AI). Saham-saham teknologi, khususnya yang bergerak dalam pengembangan AI, menjadi pendorong utama kenaikan indeks saham di AS sepanjang tahun.
Perusahaan besar di sektor teknologi mencatat pertumbuhan pendapatan signifikan berkat lonjakan permintaan AI. Valuasi pun melonjak, meski sebagian investor mulai khawatir akan potensi terbentuknya gelembung harga. Namun begitu, pelaku pasar masih meyakini bahwa AI akan menjadi katalis pertumbuhan jangka panjang.
“AI tetap menjadi tema yang tangguh dan relevan, serta terus mendorong performa sektor teknologi,” demikian pernyataan dalam riset Ashmore.
Negara Berkembang Fokus pada Rantai Pasok AI
Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, merasakan dampak tidak langsung dari tren AI global melalui peran dalam rantai pasok, seperti produksi semikonduktor dan chip. Meskipun valuasi saham-saham teknologi di negara-negara ini ikut terkerek, kekhawatiran muncul terkait apakah pertumbuhan tersebut berkelanjutan atau hanya bersifat spekulatif.
Investor di negara berkembang mulai lebih selektif dalam mengalokasikan dana, terutama di sektor teknologi yang berkaitan langsung dengan suplai global ke AS dan Eropa. Permintaan tinggi atas komponen AI tetap menjanjikan, tetapi tantangan seperti logistik, kestabilan regulasi, dan geopolitik menjadi faktor penting yang memengaruhi kelangsungan momentum ini.
Dinamika Kebijakan Suku Bunga di Indonesia
Di Tanah Air, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah lebih awal dengan memangkas suku bunga sejak awal 2025. Keputusan ini didukung oleh inflasi yang relatif stabil dan berada dalam kisaran target. Namun, proses transmisi suku bunga kebijakan ke sektor riil belum berjalan optimal.
Meskipun suku bunga acuan sudah turun 150 basis poin (bps), suku bunga pinjaman hanya turun sekitar 15 bps. Hal ini menyebabkan perlambatan dalam efek positif yang diharapkan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk mengatasi kendala ini, insentif tambahan diberikan kepada perbankan agar lebih cepat menurunkan suku bunga kredit.
“Harapannya, suku bunga pinjaman yang lebih rendah akan mendukung pertumbuhan ekonomi dalam negeri,” tulis Ashmore dalam laporan yang sama.
Perubahan Politik dan Peran Dana Kekayaan Negara
Pergantian menteri dan hadirnya Danantara sebagai pengelola baru sovereign wealth fund Indonesia membawa nuansa baru dalam kebijakan ekonomi nasional. Pemerintah berupaya menciptakan stabilitas fiskal sambil mempercepat proyek strategis.
Perubahan ini disambut positif oleh sebagian pelaku pasar, meskipun tetap ada tantangan dalam pelaksanaannya. Bank Indonesia juga terlihat semakin mendukung kebijakan pro-pertumbuhan, dengan menjaga keseimbangan antara kestabilan mata uang dan mendorong likuiditas dalam sistem perbankan.
Ketidakpastian Tetap Bayangi Imbal Hasil Jangka Panjang
Ashmore menekankan bahwa risiko jangka panjang, seperti ketidakstabilan mata uang dan defisit fiskal, masih membayangi pasar obligasi. Imbal hasil jangka panjang tetap tinggi karena premi risiko meningkat. Oleh karena itu, investor disarankan lebih selektif dalam memilih instrumen keuangan, baik di pasar obligasi maupun ekuitas.
“Kita telah melihat lebih banyak independensi dari Bank Indonesia, namun mereka tampak lebih sensitif terhadap stabilitas rupiah dibanding sebelumnya,” demikian pernyataan Ashmore.
Kualitas Saham Menjadi Prioritas Investor
Meskipun terjadi koreksi pasar sejak kuartal kedua 2025, saham-saham dengan fundamental kuat tetap menjadi pilihan utama investor. Nilai saham dalam indeks MSCI Indonesia Value menunjukkan kinerja lebih baik dibanding indeks MSCI Indonesia Growth, menandakan preferensi terhadap emiten dengan neraca dan laba yang solid.
Ashmore memperkirakan pertumbuhan laba emiten Indonesia bisa mencapai 12% pada tahun depan. Oleh karena itu, investor disarankan meningkatkan alokasi ke saham berkualitas untuk meraih potensi imbal hasil lebih tinggi.
“Kami lebih memilih saham-saham yang memiliki fundamental kuat dan tetap selektif terhadap sektor siklikal,” lanjut riset tersebut.
Obligasi Tetap Menarik, Namun Saham Menjadi Sorotan
Obligasi pemerintah Indonesia masih menawarkan peluang imbal hasil yang menarik, terutama setelah koreksi pasar. Namun, momentum pemulihan laba perusahaan diperkirakan akan menjadi alasan kuat bagi investor untuk mulai kembali meningkatkan eksposur ke saham.
Investor disarankan mengambil risiko durasi dibandingkan risiko kredit, mengingat peluang jangka menengah dalam obligasi pemerintah lebih menjanjikan. Namun, untuk jangka panjang, prospek saham terlihat lebih cerah seiring dengan perbaikan laba dan valuasi yang kompetitif.
Kesimpulan: Strategi Investasi 2026 Butuh Keseimbangan
Memasuki 2026, pelaku pasar dihadapkan pada kondisi yang dinamis: dari volatilitas suku bunga global, tekanan tarif dagang, hingga kebangkitan AI. Strategi investasi yang tepat harus menggabungkan keseimbangan antara instrumen saham dan obligasi, dengan fokus pada fundamental yang solid dan analisis risiko makroekonomi yang cermat.
Tren seperti pelonggaran kebijakan moneter dan perkembangan teknologi akan terus menjadi katalis. Namun, investor dituntut untuk tetap selektif, adaptif, dan waspada terhadap perubahan geopolitik dan risiko sistemik lainnya.
“Di tengah perubahan global, keputusan investasi yang berbasis data dan kualitas tetap menjadi kunci untuk mempertahankan imbal hasil yang optimal,” demikian ditutup dalam riset Ashmore.
Baca Juga : “The Fed Pangkas Bunga: Hari Ini Pesta Besar Siap Dimulai!“











