Purbaya Minta Direksi BEI Baru Berani Berantas Goreng Saham

Purbaya

Pemerintah Dorong Reformasi Kepemimpinan Bursa Efek Indonesia

Menjelang berakhirnya masa jabatan Direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2022–2026, pemerintah mulai menyoroti sosok ideal yang diharapkan menakhodai bursa untuk periode selanjutnya. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan pentingnya memilih pemimpin yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki keberanian dan integritas dalam menjaga integritas pasar modal.

Dalam sambutannya usai membuka perdagangan perdana BEI di awal tahun, Jumat (2/1/2026), Purbaya menyampaikan bahwa pemimpin BEI mendatang harus menjadi agen perubahan yang mampu mengembangkan jumlah investor, baik dari kalangan ritel maupun institusi, sekaligus membersihkan praktik manipulatif seperti penggorengan saham yang kian marak.

“Mereka harus punya komitmen kuat untuk membersihkan pasar dari para penggoreng saham yang kurang bertanggung jawab,” tegasnya kepada awak media.

Baca Juga : “Indonesia Andalkan Gas Bumi untuk Kurangi Batu Bara“

Masa Jabatan Direksi BEI Akan Segera Berakhir

Berdasarkan regulasi yang berlaku, masa jabatan Direksi Bursa Efek Indonesia berlaku selama empat tahun. Dengan demikian, kepemimpinan Iman Rachman sebagai Direktur Utama BEI saat ini akan berakhir pada tahun 2026. Periode selanjutnya akan ditentukan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan pada Juni mendatang.

RUPST tersebut menjadi forum strategis bagi pemegang saham untuk memilih jajaran direksi baru yang akan menjabat hingga 2030. Proses seleksi kandidat akan dilakukan secara ketat melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), memastikan hanya figur yang memenuhi kriteria terbaik yang dapat melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan.

Menkeu Dorong Penambahan Investor dan Perluasan Basis Pasar

Purbaya menggarisbawahi bahwa tantangan utama BEI tidak hanya terletak pada pertumbuhan nilai transaksi, tetapi juga dalam memperluas basis investor domestik. Ia berharap pemimpin bursa mendatang memiliki visi yang inklusif dan mampu menjangkau lebih banyak masyarakat Indonesia untuk terlibat di pasar modal.

Menurutnya, partisipasi publik yang luas menjadi kunci penguatan ekonomi nasional berbasis pasar modal. Oleh karena itu, BEI diharapkan dapat memperluas literasi keuangan dan memberikan akses seluas mungkin kepada masyarakat, termasuk kalangan muda, pelaku UMKM, dan investor pemula.

“Kita butuh pemimpin yang mampu mengembangkan basis investor ritel dan institusi secara bersamaan. Ini tidak hanya soal ekonomi, tapi juga soal keadilan distribusi akses terhadap instrumen keuangan,” kata Purbaya.

Isu Manipulasi dan Praktik Goreng Saham Jadi Sorotan

Salah satu pesan paling tegas dari Purbaya adalah peringatan terhadap praktik manipulatif di pasar modal, khususnya aksi spekulatif para pelaku pasar yang dikenal sebagai “penggoreng saham”. Ia menilai bahwa keberadaan mereka menciptakan distorsi harga yang merugikan investor ritel dan merusak kepercayaan publik terhadap pasar modal Indonesia.

Kasus penggorengan saham kerap menyeret nama-nama besar dan menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, OJK dan BEI telah mengintensifkan pengawasan terhadap transaksi mencurigakan, termasuk lewat sistem notifikasi dan pembekuan sementara perdagangan pada saham yang volatil.

Purbaya mengingatkan bahwa langkah penegakan hukum terhadap pelaku manipulasi harus menjadi bagian dari tanggung jawab moral pemimpin BEI yang baru.

“Pasar modal kita tidak akan sehat jika terus dibiarkan dikendalikan oleh segelintir pihak yang memainkan harga seenaknya. Pemimpin bursa harus tegas dalam menindak,” tambahnya.

Konteks Regional dan Target Bursa Dunia

Pemerintah menempatkan pengembangan pasar modal sebagai bagian penting dari strategi pembangunan jangka menengah nasional. Target besar telah ditetapkan: menjadikan Bursa Efek Indonesia sebagai salah satu dari 10 besar bursa saham dunia dari sisi kapitalisasi dan volume perdagangan.

Untuk mencapainya, dibutuhkan kepemimpinan yang progresif, berwawasan global, dan memiliki rekam jejak kepemimpinan yang bersih. Pemerintah berharap proses seleksi direksi BEI dapat berjalan transparan, bebas dari kepentingan kelompok tertentu, dan mengedepankan profesionalisme.

Sebagai informasi, berdasarkan data World Federation of Exchanges (WFE), hingga akhir 2025, posisi BEI masih berada di peringkat ke-17 secara global dari sisi kapitalisasi pasar. Untuk dapat masuk 10 besar, dibutuhkan peningkatan nilai kapitalisasi setidaknya 50% dalam lima tahun ke depan, serta perluasan produk-produk investasi yang inovatif dan menarik.

Menyiapkan Bursa yang Lebih Modern dan Terpercaya

Selain pemberantasan manipulasi, modernisasi infrastruktur teknologi dan peningkatan standar tata kelola juga menjadi sorotan dalam pergantian kepemimpinan. BEI perlu terus berinovasi dalam hal digitalisasi, pengembangan aplikasi perdagangan yang inklusif, serta edukasi keuangan berbasis teknologi agar relevan dengan generasi baru investor.

Pemimpin yang memiliki pemahaman terhadap transformasi digital serta mampu mengintegrasikan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) dalam tata kelola bursa diyakini akan membawa dampak positif jangka panjang.

“Tantangan BEI ke depan semakin kompleks. Integritas, inovasi, dan keberanian adalah tiga hal utama yang harus dimiliki pemimpinnya,” ujar seorang analis pasar dari Institute for Capital Market Studies.

Kesimpulan: Kepemimpinan BEI Harus Didorong oleh Visi Bersih dan Inklusif

Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelang pergantian Direksi BEI menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah menginginkan reformasi di tubuh otoritas pasar modal. Dengan tantangan yang semakin besar, dari ekspansi investor hingga pemberantasan praktik manipulatif, pemimpin BEI periode 2026–2030 dituntut untuk tidak hanya pintar, tetapi juga berani dan berintegritas.

Momen ini menjadi peluang untuk membangun pasar modal yang lebih sehat, adil, dan kompetitif secara global. Jika proses seleksi berjalan transparan dan menghasilkan pemimpin yang sesuai kriteria, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi strategisnya di pasar keuangan internasional dalam beberapa tahun ke depan.

Baca Juga : “Menkeu Purbaya Pasang Syarat Keras: Direksi BEI Baru Wajib Berantas Goreng Saham!“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *