Menkeu Purbaya Yakin Ekonomi RI Tumbuh 6 Persen di 2026

Menkeu Purbaya

Target Pertumbuhan Ambisius di Tengah Tantangan Global

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menunjukkan keyakinan penuh bahwa ekonomi Indonesia mampu tumbuh sebesar 6 persen pada tahun 2026. Hal ini disampaikan langsung saat dirinya memimpin rapat di Kantor Kementerian Keuangan pada Kamis (1/1/2026). Keyakinan itu bukan sekadar wacana, tetapi disertai strategi yang konkret.

Menurut Purbaya, proyeksi tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan asumsi dasar dalam APBN 2026 yang hanya mematok angka 5,4 persen. Ia menegaskan bahwa pertumbuhan 6 persen bukanlah hal mustahil, terutama jika pemerintah mampu menyinkronkan berbagai kebijakan fiskal dan moneter, sekaligus membenahi hambatan investasi.

“Sekarang saya bisa bicara dengan lebih yakin bahwa tahun depan bisa 6 persen, walaupun di APBN masih 5,4 persen. Saya akan paksa dorong ke 6 persen,” tegas Menkeu Purbaya.

Baca Juga : “Pertamina Hulu Energi Temukan Migas Baru di Laut Mahakam“

Strategi Kebijakan: Sinkronisasi, Belanja Awal, dan Reformasi Regulasi

Guna mendorong laju pertumbuhan yang lebih tinggi, Menkeu Purbaya memaparkan sejumlah langkah strategis. Pertama, pemerintah akan mempercepat realisasi belanja negara sejak awal tahun. Tujuannya, agar stimulus fiskal dapat langsung mendorong konsumsi dan investasi swasta.

Kedua, sinkronisasi kebijakan antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia akan diintensifkan, guna memastikan arah kebijakan ekonomi nasional lebih selaras dan saling mendukung.

Ketiga, pemerintah berkomitmen menyisir regulasi-regulasi yang dinilai menghambat arus masuk investasi. Pembenahan regulasi ini diharapkan meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi regional dan global.

Langkah-langkah tersebut dirancang bukan hanya untuk mencapai pertumbuhan 6 persen, tetapi juga menjamin bahwa pertumbuhan itu bersifat inklusif dan berkelanjutan.

Capaian Ekonomi 2025 Jadi Fondasi Menuju 2026

Performa ekonomi nasional sepanjang 2025 dinilai cukup solid dan menjadi dasar optimisme menuju 2026. Purbaya memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2025 akan berada di kisaran 5,2 persen, dengan kuartal IV-2025 mencatatkan pertumbuhan di atas 5,5 persen.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pertumbuhan kuartal III-2025 berada pada level 5,04 persen (year-on-year). Ini menandakan daya tahan ekonomi Indonesia tetap kuat meski tekanan global belum mereda.

Dalam laporan tertulis, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyatakan bahwa kinerja ini merupakan buah dari konsistensi kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi.

“Pemerintah konsisten menjaga stabilitas ekonomi nasional, salah satunya melalui penguatan koordinasi kebijakan lintas kementerian dan lembaga,” ungkap Haryo.

Indonesia Jadi Ekonomi Terbesar ke-8 Dunia Berdasarkan PPP

Dari sisi skala ekonomi, posisi Indonesia di panggung global semakin menguat. Berdasarkan data terbaru tahun 2024, Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Indonesia telah mencapai USD 1.396,30 miliar. Sementara jika menggunakan Paritas Daya Beli (PPP), Indonesia kini berada di peringkat ke-8 ekonomi terbesar dunia dengan nilai USD 4,10 triliun.

Kenaikan ini juga tercermin dari peningkatan kesejahteraan masyarakat. PDB per kapita Indonesia tercatat naik menjadi Rp78,62 juta atau setara USD 4.960,33. Angka ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang merata dan menyentuh lapisan masyarakat secara lebih luas.

Inflasi Terkendali, Rupiah Stabil, dan Cadangan Devisa Kuat

Faktor makroekonomi lainnya turut memperkuat fondasi optimisme Menkeu Purbaya. Inflasi nasional pada November 2025 tercatat hanya 2,72 persen (yoy), berada dalam rentang target yang ditetapkan oleh pemerintah dan Bank Indonesia.

Kurs Rupiah terhadap Dolar AS juga tetap stabil di kisaran Rp16.785. Stabilitas nilai tukar ini menjadi sinyal positif bagi pelaku pasar dan investor asing yang melihat kestabilan moneter sebagai syarat utama investasi jangka panjang.

Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia tetap tinggi, mencapai USD 150,1 miliar pada November 2025. Posisi ini menunjukkan kemampuan negara untuk membiayai kebutuhan impor dan menjaga kestabilan nilai tukar, sekaligus memperkuat ketahanan eksternal Indonesia.

Investasi dan Perdagangan Jadi Motor Pertumbuhan Tambahan

Dari sektor eksternal, Indonesia mencatat prestasi luar biasa dengan mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 66 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Sepanjang Januari hingga Oktober 2025, surplus perdagangan mencapai USD 35,88 miliar.

Tidak hanya perdagangan, investasi juga menunjukkan tren menguat. Realisasi investasi hingga kuartal III-2025 mencapai Rp1.434,3 triliun atau meningkat 13,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap iklim usaha dan stabilitas ekonomi Indonesia.

Selain itu, sektor perbankan turut mendukung pemulihan ekonomi dengan peningkatan penyaluran kredit sebesar 7,36 persen pada Oktober 2025. Sektor manufaktur juga mencatatkan ekspansi, tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) yang berada di level 53,3.

Pasar Modal Tangguh: IHSG Mendekati 8.650 di Akhir Tahun

Kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia tercermin dari performa pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level 8.644,26 pada akhir Desember 2025. Kinerja positif ini menandakan optimisme pelaku pasar terhadap kebijakan pemerintah dan prospek pertumbuhan ekonomi nasional.

Peningkatan IHSG juga menunjukkan bahwa sektor korporasi dan konsumen merespons positif kebijakan fiskal dan moneter yang dijalankan selama 2025. Dengan kondisi ini, ruang untuk tumbuh lebih tinggi pada 2026 menjadi semakin terbuka.

Sinergi Kebijakan Jadi Kunci Pertumbuhan Berkualitas

Purbaya menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan bank sentral. Ia menyebut bahwa sinkronisasi arah kebijakan antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia semakin solid. Dengan kerja sama yang lebih erat, kebijakan fiskal dan moneter akan lebih efektif dalam mendongkrak konsumsi, investasi, serta ekspor.

Langkah-langkah seperti reformasi regulasi, digitalisasi birokrasi, dan penyederhanaan perizinan menjadi bagian dari strategi yang memperbesar peluang tercapainya pertumbuhan 6 persen.

“Kami semakin sinkron dengan bank sentral. Ini membuka ruang lebih besar bagi kita untuk tumbuh di atas target,” ujar Purbaya.

Kesimpulan: Optimisme Terukur Menuju Pertumbuhan Ekonomi 2026

Dengan landasan ekonomi yang solid di 2025 dan berbagai kebijakan strategis yang akan diluncurkan sejak awal 2026, optimisme Menkeu Purbaya bukan tanpa alasan. Dukungan indikator makroekonomi, kestabilan moneter, kekuatan sektor riil, dan pertumbuhan investasi menjadi modal utama untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 6 persen.

Jika seluruh strategi dijalankan secara konsisten dan tepat sasaran, Indonesia bukan hanya mampu mencapai target tersebut, tetapi juga memperkuat posisi sebagai kekuatan ekonomi utama di kawasan dan dunia. Tahun 2026 pun bisa menjadi momentum percepatan transformasi ekonomi nasional menuju arah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Baca Juga : “Optimis Indonesia Mampu Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Menkeu Purbaya: 8 Persen Itu Baru Awal yang Baik“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *