Indonesia Perkuat Kemitraan Baja dengan Teknologi Global

Kemitraan Baja

Kunjungan Resmi Wamenperin ke Fasilitas Produksi Tenova Italia

Pemerintah Indonesia terus memperkuat komitmennya dalam mengembangkan industri logam nasional. Salah satu langkah penting ditunjukkan melalui kunjungan Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) RI, Faisol Riza, ke fasilitas produksi perusahaan teknologi global Tenova S.p.A di Castellanza, Italia. Kunjungan ini menjadi simbol nyata keseriusan pemerintah dalam membangun kemitraan teknologi strategis yang mendukung industrialisasi lanjutan Indonesia.

Dalam kunjungan tersebut, Faisol meninjau langsung lini produksi Tenova yang menggunakan mesin CNC mutakhir. Perusahaan ini merupakan bagian dari Techint Group dan dikenal luas sebagai penyedia solusi teknologi di sektor metalurgi dan pertambangan. Kunjungan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kerja sama teknologi dan mendukung transformasi industri logam nasional menuju masa depan yang lebih inovatif dan berkelanjutan.

Baca Juga : “Perusahaan Klaten Ekspor 2 Ton Adonan Roti ke UEA“

Tenova Jadi Mitra Strategis Indonesia di Rantai Nilai Industri Logam

Faisol menegaskan bahwa pemerintah menaruh perhatian serius terhadap pengembangan industri logam nasional. Dalam pernyataan resminya yang dirilis Minggu (7/12/2025), ia menjelaskan bahwa Tenova memiliki peran kunci di hampir seluruh proses industri metalurgi. Proses itu mencakup mulai dari pengolahan bahan mentah, reduksi langsung, penggunaan electric arc furnace dan submerged arc furnace, hingga teknologi downstream seperti heat treatment furnace, cold rolling mill, dan strip processing line.

Selain di sektor baja, Tenova juga aktif mengembangkan teknologi untuk pertambangan. Portofolionya mencakup sistem penanganan material, alat pengolahan mineral, dan solusi untuk tambang berskala besar. Perusahaan ini telah menjalin kemitraan jangka panjang dengan pelaku industri besar di Indonesia seperti PT Freeport Indonesia dan PT Tata Metal Lestari (TML).

“Kami ingin menjadikan Tenova mitra utama dalam penguatan riset dan inovasi di sektor logam nasional, termasuk untuk industri pertahanan,” tegas Faisol.

Strategi Baru Industrialisasi Nasional Tekankan Hilirisasi dan Keberlanjutan

Kunjungan Wamenperin ini juga menandai arah baru kebijakan industrialisasi Indonesia yang akan dituangkan dalam Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) oleh Menteri Perindustrian. Industri logam, menurut Faisol, adalah salah satu sektor prioritas yang harus dikembangkan dengan pendekatan berbasis teknologi, efisiensi energi, dan keberlanjutan lingkungan.

“Transformasi industri ke depan tidak cukup hanya mengandalkan skala besar. Kita juga harus mengedepankan kualitas dan keberlanjutan sebagai indikator utama keberhasilan,” ujar Faisol. Ia juga menyebut bahwa penguatan teknologi menjadi syarat utama agar Indonesia dapat bersaing di panggung global.

Tenova Apresiasi Kemitraan Panjang dengan Industri Baja Indonesia

CEO Tenova, Roberto Pancaldi, menyambut baik kunjungan resmi dari Indonesia dan mengapresiasi kerja sama yang sudah terjalin. Ia menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam memperluas kolaborasi yang sudah ada, termasuk dengan Krakatau Steel dan Tata Metal Lestari.

“Kami sangat menghargai komitmen pemerintah Indonesia dalam mendukung teknologi ramah lingkungan di sektor baja. Kami berharap kemitraan ini bisa terus berkembang,” ujar Pancaldi.

Ia juga menekankan bahwa Tenova berkomitmen mendukung target keberlanjutan Indonesia melalui transfer teknologi, pelatihan tenaga kerja lokal, dan pengembangan produk baja beremisi rendah.

Tata Metal Lestari Bangun CGL 2 Berbasis Teknologi Tenova

Salah satu contoh konkret kerja sama teknologi antara Indonesia dan Tenova adalah pembangunan fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 oleh PT Tata Metal Lestari di Sadang. Fasilitas ini akan menggunakan teknologi utama dari Tenova yang mampu meningkatkan efisiensi termal serta menekan emisi karbon.

Menurut GM Manufacturing TML, Rendra Fernanda, proyek ini bukan sekadar soal peningkatan kapasitas produksi. Fokus utama mereka adalah memastikan kualitas produk yang tinggi dan dampak lingkungan yang minimal.

“Kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan produksi kami tidak mengorbankan kualitas atau aspek lingkungan. Inilah arah baru industri,” jelas Rendra, mewakili VP of Operations TML, Stephanus Koeswandi.

Dukungan terhadap Agenda Net Zero Emission dan Ekonomi Sirkular

Kolaborasi antara TML dan Tenova dinilai sejalan dengan berbagai agenda strategis nasional, seperti pencapaian Net Zero Emission 2060, pengembangan ekonomi sirkular, dan penerapan teknologi ramah lingkungan dalam proses industri.

Menurut data Kementerian Perindustrian, sektor industri menyumbang lebih dari 20% terhadap emisi nasional. Oleh karena itu, penguatan kerja sama dengan penyedia teknologi hijau seperti Tenova dinilai sangat strategis dalam mendukung target pengurangan emisi jangka panjang Indonesia.

Langkah TML dalam menerapkan teknologi galvanisasi yang lebih efisien juga mencerminkan upaya sektor swasta untuk berperan aktif dalam transisi energi bersih.

Transformasi Menuju Industri Baja yang Maju dan Berdaya Saing

Upaya pemerintah dalam mendorong penguatan kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi global seperti Tenova sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo. Visi ini menempatkan sektor industri sebagai motor penggerak ekonomi berbasis inovasi, bukan hanya ekspor bahan mentah.

Hilirisasi menjadi kunci. Industri logam, khususnya baja, adalah tulang punggung dari berbagai sektor vital seperti konstruksi, otomotif, pertahanan, dan energi. Dengan dukungan teknologi mutakhir, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama di pasar baja Asia Tenggara.

Pandangan ke Depan: Jalan Menuju Industrialisasi Hijau

Penguatan kerja sama teknologi antara Indonesia dan perusahaan global seperti Tenova bukan hanya soal peningkatan kapasitas produksi. Ini adalah bagian dari strategi jangka panjang Indonesia untuk membangun ekosistem industri yang berkelanjutan, berbasis riset, dan mampu beradaptasi dengan tren global seperti dekarbonisasi, digitalisasi, dan ekonomi hijau.

“Indonesia tidak hanya ingin punya industri besar, tapi juga industri yang canggih, hijau, dan menjadi referensi di dunia,” pungkas Faisol.

Ke depan, Indonesia diharapkan dapat memperluas kerja sama serupa dengan pelaku teknologi global lain. Dukungan kebijakan, insentif industri hijau, dan investasi berkelanjutan akan menjadi faktor penentu dalam mencapai transformasi industri nasional secara menyeluruh.

Baca Juga : “Keuntungan Membangun Relasi Jangka Panjang dengan Distributor Baja“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *