TLKM Resmi Lepas Bisnis Fiber Wholesale Rp90 Triliun

TLKM

Pemegang Saham Setujui Spin-Off Besar di Tubuh Telkom Indonesia

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau TLKM secara resmi mendapatkan restu dari para pemegang saham untuk memisahkan bisnis wholesale fiber connectivity dan aset infrastruktur jaringannya. Keputusan ini diumumkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada Jumat, 12 Desember 2025.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari agenda transformasi perusahaan menuju model bisnis yang lebih fokus dan adaptif. Bisnis dan aset yang dipisahkan akan dialihkan ke anak perusahaan baru bernama PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia).

Baca Juga : “Harga Cabai Naik Dinilai Masih Wajar Jelang Libur Nataru“

InfraNexia, Pilar Baru untuk Bisnis Infrastruktur Serat Optik Nasional

InfraNexia akan mengambil alih sebagian besar jaringan serat optik yang sebelumnya berada di bawah kendali langsung TLKM. Mulai dari jalur access hingga backbone, perusahaan baru ini akan bertanggung jawab mengelola jaringan utama yang menjadi tulang punggung konektivitas digital di Indonesia.

Pada fase awal spin-off, lebih dari setengah aset jaringan fiber Telkom akan berada di bawah kendali InfraNexia. Proses ini akan berlanjut hingga rampung seluruhnya pada tahun 2026. Total nilai pemisahan bisnis dan aset tersebut ditaksir mencapai Rp90 triliun.

Dorong Efisiensi dan Sinergi Bisnis Lewat Model Terfokus

Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menyampaikan bahwa langkah ini akan membuat struktur bisnis Telkom lebih ramping, efisien, dan strategis. Ia juga menekankan pentingnya memperkuat posisi Telkom sebagai penggerak digitalisasi nasional.

“Pemisahan ini adalah bentuk komitmen Telkom untuk membangun ekosistem yang lebih lincah dan fokus. Dengan ini, kami bisa memberikan nilai tambah lebih besar, tidak hanya untuk perusahaan tetapi juga untuk masyarakat dan negara,” ujar Dian dalam siaran resmi pasca-RUPSLB.

Sinergi dengan Danantara: Percepatan Transformasi Digital BUMN

Transformasi bisnis ini juga merupakan bagian dari mandat strategis bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan skema kerja yang efisien dan menghasilkan dampak maksimal terhadap perekonomian digital Indonesia.

InfraNexia akan beroperasi sebagai entitas mandiri yang fokus pada ekspansi jaringan, efisiensi operasional, serta menjalin kolaborasi strategis, termasuk berbagi jaringan dengan pihak ketiga.

Restrukturisasi Manajemen: Telkom Umumkan Direksi dan Komisaris Baru

Sebagai bagian dari penyesuaian organisasi dengan strategi baru, TLKM juga merombak jajaran direksi dan dewan komisaris dalam RUPSLB tersebut. Budi Satria Dharma Purba ditunjuk sebagai Direktur Wholesale & International Service yang baru, menggantikan Honesti Basyir.

Di sisi komisaris, Rofikoh Rokhim bergabung sebagai Komisaris Independen setelah pengunduran diri Yohanes Surya. Perubahan ini dilakukan agar manajemen TLKM selaras dengan arah bisnis ke depan.

Struktur Organisasi Terbaru TLKM Usai RUPSLB

Dewan Direksi Telkom Indonesia:

  • Dian Siswarini – Direktur Utama
  • Arthur Angelo Syailendra – Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko
  • Willy Saelan – Direktur Human Capital Management
  • Budi Satria Dharma Purba – Direktur Wholesale & International Service
  • Veranita Yosephine – Direktur Enterprise & Business Service
  • Seno Soemadji – Direktur Strategic Business Development & Portfolio
  • Nanang Hendarno – Direktur Network
  • Faizal Rochmad Djoemadi – Direktur IT Digital
  • Andy Kelana – Direktur Legal & Compliance

Dewan Komisaris:

  • Angga Raka Prabowo – Komisaris Utama
  • Rionald Silaban – Komisaris
  • Rizal Mallarangeng – Komisaris
  • Ossy Dermawan – Komisaris
  • Silmy Karim – Komisaris
  • Deswandhy Agusman – Komisaris Independen
  • Ira Noviarti – Komisaris Independen
  • Rofikoh Rokhim – Komisaris Independen

Respons Pasar: Saham TLKM Alami Penyesuaian Harga

Menanggapi aksi korporasi ini, pasar menunjukkan reaksi moderat. Pada perdagangan Jumat (12/12/2025), saham TLKM ditutup turun tipis 0,56% di harga Rp3.550 per saham. Sepanjang hari, saham bergerak antara Rp3.500 hingga Rp3.630.

Dengan volume transaksi mencapai lebih dari 841 ribu saham dan nilai perdagangan sekitar Rp298 miliar, investor mencermati arah transformasi TLKM sebagai sinyal positif jangka panjang, meski jangka pendeknya diwarnai penyesuaian.

Fokus ke Layanan Digital dan Kolaborasi Strategis

Pemisahan bisnis ini memungkinkan TLKM fokus pada sektor layanan digital, seperti data center, layanan cloud, analitik data, serta platform berbasis digital. Dengan demikian, Telkom dapat lebih gesit bersaing di sektor teknologi informasi dan komunikasi yang makin dinamis.

InfraNexia juga membuka peluang bagi kemitraan strategis dengan pemain lokal dan global untuk memperluas jangkauan dan kualitas jaringan di Indonesia.

Kesimpulan: Langkah Besar Menuju Perusahaan Digital Modern

Transformasi yang dilakukan Telkom melalui pelepasan bisnis fiber dan pembentukan InfraNexia bukan hanya soal efisiensi, tapi juga penyesuaian terhadap kebutuhan zaman. Model bisnis yang terpisah antara penyedia jaringan dan layanan digital diyakini akan memperkuat daya saing perusahaan di era konvergensi teknologi.

Dengan dukungan pemegang saham, perubahan manajemen, dan strategi jangka panjang yang jelas, Telkom kini berada pada jalur baru sebagai salah satu kekuatan utama dalam pembangunan ekosistem digital nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Baca Juga : “Spin-off InfraNexia Resmi Disetujui, TelkomGroup Perkuat Arah Bisnis Infrastruktur Digital“

Exit mobile version