Dua Saham Bank Big Cap Diperkirakan Menjadi Pilihan Utama Investor di 2026
Kinerja unggul dan profil kredit sehat menjadikan dua saham bank berkapitalisasi besar, yakni BBCA dan BMRI, sebagai kandidat kuat andalan pasar saham tahun 2026. Proyeksi ini datang dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, yang menilai keduanya lebih tangguh menghadapi tantangan ekonomi dibanding bank besar lainnya.
Fokus Pasar Bergeser ke Emiten dengan Risiko Kredit Lebih Rendah
Dalam wawancara terbarunya, analis Mirae Asset menggarisbawahi bahwa kekhawatiran terhadap risiko kredit masih membayangi sektor perbankan. Namun, BBCA dan BMRI dinilai unggul karena memiliki pengelolaan risiko pinjaman yang lebih ketat.
“Jika dilihat dari kualitas aset dan profil risiko, BBCA dan BMRI lebih aman dibandingkan bank lain,” ujar Rully, analis Mirae Asset, Jumat (5/12/2025).
Ia juga menyebut bahwa beberapa bank besar lain masih dibayangi potensi kredit bermasalah, terutama di sektor mikro dan UMKM.
Baca Juga : “Investor Asing Borong Saham Rp 381 M, IHSG Justru Melemah“
Stabilitas Laba dan Kualitas Aset Jadi Penopang Kepercayaan Investor
BBCA dan BMRI Tawarkan Keuntungan dari Segi Fundamental
Analis Mirae lainnya, Muhammad Farras Farhan, menyatakan bahwa kedua saham tersebut memiliki fundamental keuangan yang lebih stabil, termasuk dari sisi pendapatan dan efisiensi operasional.
“Secara laba, keduanya cenderung stabil. Kualitas aset mereka juga cukup atraktif dibanding pesaing,” kata Farras.
Stabilitas tersebut memberikan daya tarik tersendiri, khususnya bagi investor institusional yang mencari kestabilan dalam jangka panjang.
Loan Profile yang Terjaga Perkuat Daya Saing di Tengah Gejolak Ekonomi
BBCA dan BMRI Lebih Tahan Terhadap Guncangan Eksternal
Dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, struktur pinjaman yang sehat menjadi nilai jual penting. Farras menilai BBCA dan BMRI telah berhasil menjaga kualitas portofolio kredit, meskipun terdapat tekanan ekonomi pada 2025.
“Profil pinjaman mereka relatif aman dan tidak terlalu terdampak tekanan ekonomi yang terjadi tahun ini,” imbuhnya.
Dengan demikian, dua emiten ini dinilai lebih siap menghadapi dinamika ekonomi 2026, yang diperkirakan lebih positif.
Saham Bank Besar Dinilai Masih Menarik Berdasarkan Valuasi Historis
Price to Book Ratio Masih di Bawah Rata-rata 3 Tahun
Sektor perbankan kini dianggap memasuki fase undervalued. Mirae Asset mencatat bahwa valuasi saham bank besar saat ini berada di bawah rata-rata tiga tahun terakhir, terutama dilihat dari rasio price to book.
“Jika kembali ke rata-rata valuasi tiga tahun, maka saham bank besar akan sangat menarik tahun depan,” ungkap Farras.
Situasi ini membuka ruang apresiasi harga saham jika proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 benar-benar terealisasi.
Sektor Perbankan Diprediksi Jadi Penopang Indeks Saham Gabungan
Kinerja Bank Besar Bisa Angkat IHSG ke Level Lebih Tinggi
Farras menambahkan bahwa sektor keuangan, khususnya bank, akan menjadi katalis penting bagi pergerakan IHSG pada 2026. Selain sektor konglomerasi, bank diperkirakan menjadi penggerak utama bursa saham.
“Performa saham bank sangat berpotensi mendongkrak IHSG tahun depan,” katanya.
Stabilitas dan pemulihan sektor ini akan memberikan dampak positif berantai terhadap pasar modal nasional secara keseluruhan.
Harga Emas Dunia Diprediksi Masih Kuat, Jadi Peluang Diversifikasi Portofolio
Korelasi Negatif dengan Dolar Buka Ruang Kenaikan Harga Emas
Selain saham, Mirae Asset juga menyoroti potensi kenaikan harga emas di tahun 2026. Pelemahan indeks dolar AS (DXY) menjadi faktor utama yang mendorong penguatan emas, sejalan dengan tren yang tercatat selama dekade terakhir.
“Setiap kenaikan 1% pada DXY, harga emas turun sekitar 1,13%. Ini korelasi kuat,” jelas Farras.
Dengan proyeksi DXY turun ke level 96, harga emas global dinilai berpeluang melanjutkan tren positifnya.
Cadangan Emas Bank Sentral Dunia Terus Bertambah di Tengah Tren Dedolarisasi
Norwegia hingga China Gencar Tambah Simpanan Emas
Tren global menunjukkan bahwa bank sentral dari berbagai negara mulai mengalihkan sebagian cadangannya ke aset emas. Ini terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian global dan tren dedolarisasi.
“Bank sentral dari negara besar hingga kecil ikut menambah simpanan emasnya,” ujar Farras.
Fenomena ini mendorong permintaan jangka panjang terhadap emas, menjadikannya instrumen yang sangat relevan untuk diversifikasi portofolio pada 2026.
Harga Emas Meningkat Dua Kali Lipat dalam Setahun, Tembus USD 4.200
Lonjakan Harga Emas Dipicu Permintaan Tinggi dan Ketidakpastian Global
Harga emas dunia telah mengalami kenaikan drastis sepanjang 2025, dari USD 2.000 ke USD 4.200 per troy ons. Kenaikan ini dipicu oleh permintaan institusional, terutama dari bank sentral, dan pelemahan dolar AS.
“Emas melonjak karena permintaan bank sentral dan tren pengalihan cadangan dari dolar ke emas,” kata Farras.
Ini memperkuat posisi emas sebagai aset pelindung nilai yang ideal di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.
Kesimpulan: Kombinasi Saham Bank Unggulan dan Emas Jadi Strategi Investasi Ideal 2026
Berdasarkan proyeksi terbaru, kombinasi antara saham bank besar seperti BBCA dan BMRI serta emas sebagai aset pelindung nilai menjadi strategi investasi yang dinilai paling seimbang dan tahan terhadap risiko.
BBCA dan BMRI unggul dari sisi fundamental dan valuasi, sementara emas menawarkan stabilitas dalam situasi ekonomi global yang berubah-ubah. Keduanya memberikan peluang yang berbeda, namun saling melengkapi.
Investor disarankan mulai mencermati dua sektor ini, sebagai bagian dari diversifikasi portofolio jangka menengah yang lebih adaptif terhadap perkembangan pasar tahun depan.
Baca Juga : “Apa itu Saham Big Cap? 10 Saham Big Cap di Indonesia“
