IHSG Terkoreksi 0,09 Persen, Meski Asing Catat Net Buy Besar
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat, 5 Desember 2025, ditutup terkoreksi tipis sebesar 0,09 persen ke posisi 8.632,76. Hal ini terjadi meskipun investor asing mencatatkan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 381,18 miliar, di tengah nilai transaksi harian saham yang tinggi, mencapai Rp 20,5 triliun.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa sentimen positif dari investor asing belum cukup kuat untuk mendorong IHSG bertahan di zona hijau, akibat tekanan pada sejumlah sektor utama dan aksi ambil untung yang mendominasi di akhir pekan.
Baca Juga : “Pertamina Pastikan Distribusi BBM dan LPG ke Sumatera Aman“
Pergerakan IHSG: Dari Puncak ke Penurunan Harian
Berdasarkan data dari RTI Business, IHSG sempat menyentuh level tertinggi harian di 8.689,09 dan level terendah di 8.617,03. Meskipun mengalami koreksi tipis, sebanyak 362 saham masih mampu menguat. Sementara itu, 293 saham terpantau melemah dan 146 saham stagnan.
Frekuensi perdagangan mencapai 2,56 juta kali transaksi, dengan volume mencapai 48,2 miliar saham. Aktivitas tinggi ini memperlihatkan bahwa minat pasar tetap besar, meski sentimen belum cukup kuat untuk mengangkat indeks secara menyeluruh.
Investor Asing Masuk, Tapi Pasar Domestik Masih Rentan
Aksi beli dari investor asing patut dicatat karena nilainya tergolong signifikan untuk satu hari perdagangan, yaitu Rp 381,18 miliar. Namun, tekanan jual dari investor domestik, khususnya di sektor-sektor tertentu, membuat IHSG sulit mempertahankan momentum positif.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pengaruh investor asing masih terbatas apabila tidak dibarengi oleh sentimen domestik yang solid dan kinerja sektor unggulan yang mendukung.
Sektor Saham: Industri dan Infrastruktur Menjadi Penopang
Dari sebelas sektor saham yang menjadi penopang IHSG, enam sektor mengalami penguatan. Sektor industri mencatatkan kenaikan terbesar yaitu 4,01 persen, diikuti sektor infrastruktur yang menanjak 3,04 persen, serta sektor transportasi yang naik 2,74 persen.
Sektor lain yang turut menguat yakni consumer cyclical (1,84%), sektor keuangan (1,05%), dan sektor basic materials (0,04%). Kinerja positif sektor-sektor ini membantu menahan pelemahan IHSG secara keseluruhan.
Sektor Energi dan Teknologi Menekan Indeks
Di sisi lain, lima sektor mengalami koreksi yang turut menjadi penekan IHSG. Sektor energi turun 0,69%, consumer non-cyclical melemah 0,44%, sektor kesehatan terkoreksi 0,60%, properti menurun 0,17%, dan sektor teknologi turun 0,70%.
Kinerja negatif dari sektor-sektor ini menunjukkan bahwa masih ada kekhawatiran terhadap prospek jangka pendek di beberapa industri, terutama yang sensitif terhadap sentimen global dan pergerakan harga komoditas.
Kinerja Saham: BNBR dan ARCI Curi Perhatian
Di antara pergerakan saham yang menonjol, BNBR mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 9,88% ke level Rp 89 per saham. Saham ini menjadi sorotan karena mencetak penguatan maksimal di level tertingginya sepanjang sesi perdagangan.
Sementara itu, saham ARCI juga menguat sebesar 3,17% ke posisi Rp 1.300 per saham, dengan nilai transaksi mencapai Rp 100,3 miliar, menjadi salah satu saham aktif dan menarik perhatian pelaku pasar.
Saham INRU Melemah, ENRG Masih Positif
Sebaliknya, saham INRU mengalami koreksi cukup dalam yaitu 4,2%, ditutup di level Rp 685 per saham. Pergerakan saham ini mencerminkan tekanan jual di sektor terkait, ditambah volume perdagangan yang relatif kecil (2.004 saham), menunjukkan minimnya partisipasi investor.
Adapun saham ENRG mencatatkan penguatan ringan 1,26% ke posisi Rp 1.205 per saham. Dengan nilai transaksi harian Rp 145,4 miliar, saham ini menunjukkan daya tarik meski sektor energi secara umum tertekan.
Pandangan Analis: Pasar Perlu Katalis Tambahan
Sejumlah analis menilai bahwa meskipun investor asing mulai masuk kembali ke pasar saham Indonesia, IHSG masih membutuhkan katalis tambahan agar dapat menembus level resistance berikutnya.
“Kehadiran investor asing penting, tapi pasar butuh sinyal ekonomi yang kuat dan stabilitas eksternal agar penguatan bisa berkelanjutan,” ujar seorang analis dari perusahaan sekuritas nasional.
Penutup: Momentum Asing Positif, Tapi Sentimen Masih Campuran
Secara keseluruhan, pergerakan IHSG pada Jumat pekan ini mencerminkan dinamika yang kompleks. Meski terjadi arus masuk modal asing yang cukup besar, pasar belum sepenuhnya merespons secara positif akibat tekanan di sejumlah sektor serta aksi ambil untung oleh investor domestik.
Untuk pekan depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan ekonomi global, arah kebijakan suku bunga, serta rilis data ekonomi domestik yang bisa memberikan sentimen lanjutan terhadap IHSG. Jika katalis positif menguat, bukan tidak mungkin IHSG kembali menguji level psikologis 8.700 dalam waktu dekat.
Baca Juga : “Investor Asing Keluar dari Pasar Saham dan Obligasi, Perlukah Ikut Panik?“
