Transisi Energi Dimulai dari Desa: Upaya Nyata PLN EPI Dorong Biomassa
PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mengambil langkah strategis dalam transisi menuju energi bersih. Perusahaan memperkenalkan sorgum sebagai bahan bakar biomassa alternatif di PLTU Pelabuhan Ratu. Langkah ini merupakan bagian dari program co-firing untuk menekan konsumsi batu bara.
Pemanfaatan sorgum tak hanya menyasar pengurangan emisi. Inisiatif ini juga berkontribusi pada pemberdayaan petani dan pengembangan ekonomi desa di sekitar Sukabumi. Dengan demikian, program co-firing tak hanya menargetkan manfaat lingkungan, tetapi juga sosial dan ekonomi.
Sorgum dipilih karena mampu tumbuh di lahan marginal yang kurang subur. Selain itu, tanaman ini memiliki siklus panen cepat dan bisa ditanam sepanjang tahun. Potensi tersebut menjadikan sorgum sebagai kandidat kuat untuk mendukung suplai biomassa secara berkelanjutan.
Baca Juga : “6 Satelit Starlink Sediakan Internet Gratis di Aceh-Sumut“
Strategi Biomassa PLN: Dari Hulu ke Hilir dengan Tanaman Lokal
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menjelaskan bahwa keberhasilan program biomassa sangat bergantung pada ekosistem pasokan yang kuat dan terencana. Ia menyebutkan bahwa sorgum adalah simbol solusi lokal untuk tantangan energi nasional.
“Energi masa depan Indonesia tidak hanya hadir dari teknologi besar, tetapi juga dari tanaman kuat seperti sorgum,” kata Hokkop pada Senin (8/12/2025).
Sorgum dinilai mampu menjawab tantangan geografis dan sosial Indonesia. Tanaman ini memiliki ketahanan terhadap kondisi iklim yang tidak merata dan bisa tumbuh di tanah kurang produktif. Ini menjadikannya ideal untuk dibudidayakan oleh masyarakat desa tanpa mengganggu kebutuhan pangan.
PLN EPI menggandeng PT Berkah Inti Daya dalam mengembangkan ekosistem sorgum. Kerja sama ini mencakup pembukaan lahan, pendampingan teknis kepada petani, hingga integrasi ke rantai pasok energi. Dengan sistem yang menyeluruh, perusahaan ingin memastikan biomassa tersuplai secara efisien dan berkelanjutan.
PLTU Pelabuhan Ratu Siap Jadi Model Nasional Energi Bersih
Senior Manager PLN Indonesia Power UBP Pelabuhan Ratu, Bowo Pramono, menyatakan bahwa penggunaan sorgum sangat mendukung keandalan PLTU dalam upaya mencapai target nol emisi. Ia menyebut keunggulan sorgum sebagai tanaman energi tidak hanya dari segi teknis, tetapi juga dari sisi sosial.
“Sorgum panen cepat, tumbuh di lahan marginal, dan tidak mengganggu ketahanan pangan,” ujar Bowo.
PLTU Pelabuhan Ratu akan menjadi role model nasional untuk pemanfaatan biomassa berbasis tanaman lokal. Menurut Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, program ini harus memberikan manfaat secara berlapis: lingkungan, ekonomi, dan ketahanan energi nasional.
Kesiapan infrastruktur dan koordinasi lintas pihak akan menjadi faktor penting keberhasilan. Dengan sinergi dari hulu ke hilir, PLTU Pelabuhan Ratu diharapkan menjadi contoh nyata transformasi energi berbasis potensi lokal.
Kontribusi Sosial-Ekonomi: Energi Hijau yang Tumbuh Bersama Petani
Salah satu keunggulan program biomassa berbasis sorgum adalah dampak ekonomi langsung ke masyarakat. Program ini membuka peluang kerja baru, meningkatkan pendapatan petani, dan memperkuat ketahanan pangan lokal.
Hokkop menyatakan, “Jika industri ini tumbuh, yang meningkat bukan hanya energi hijau, tetapi juga kesejahteraan masyarakat di Sukabumi.”
Dengan pola tanam 3–4 bulan, petani bisa memanen hingga tiga kali dalam setahun. Pendapatan yang konsisten akan mendorong masyarakat desa untuk aktif dalam rantai pasok energi. Ini membentuk simbiosis positif antara energi dan kesejahteraan.
Model ini juga berkontribusi pada pengurangan ketergantungan terhadap batu bara. Dengan menumbuhkan biomassa dari lokal, biaya distribusi bisa ditekan dan dampak karbon dari logistik ikut berkurang.
PLN Fokus Kembangkan Energi Bersih Meski Hadapi Tantangan di Aceh
Sementara inisiatif biomassa berjalan di Pelabuhan Ratu, PLN juga menghadapi tantangan besar dalam pemulihan sistem kelistrikan di Aceh. Bencana banjir bandang dan longsor menyebabkan kerusakan parah pada jaringan transmisi di wilayah tersebut.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan pemulihan pasokan listrik. Dalam laporannya kepada Presiden Prabowo dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Darmawan mengungkap bahwa 93% wilayah Aceh ditargetkan menyala kembali pada 7 Desember 2025 malam.
Namun proses pemulihan terkendala oleh akses jalan yang terputus, kondisi medan yang berat, serta rusaknya enam tower transmisi utama di jalur Bireuen–Arun.
“Material perbaikan seberat 35 ton terpaksa diangkut pakai helikopter satu per satu,” jelas Darmawan dari Banda Aceh pada Selasa (9/12/2025).
Upaya sinkronisasi pembangkit PLTMG Arun sempat berjalan. Namun saat diperluas ke wilayah Sigli dan Banda Aceh, gangguan teknis menyebabkan suplai harus dihentikan sementara. PLN menegaskan seluruh tim di lapangan terus bekerja keras memulihkan sistem.
Penutup: Transisi Energi Harus Berbasis Lokal dan Tangguh terhadap Krisis
Langkah PLN dalam memperluas penggunaan biomassa lokal seperti sorgum di PLTU Pelabuhan Ratu menunjukkan bahwa transisi energi bisa dimulai dari desa. Inisiatif ini menggabungkan efisiensi, keberlanjutan, dan kemandirian.
Di sisi lain, peristiwa di Aceh menunjukkan tantangan besar yang masih dihadapi sektor kelistrikan nasional. Infrastruktur energi harus dibangun dengan prinsip tangguh terhadap bencana dan adaptif terhadap iklim ekstrem.
Dengan kombinasi strategi berbasis lokal dan ketahanan sistem nasional, Indonesia memiliki peluang besar mewujudkan masa depan energi yang bersih, adil, dan berkelanjutan. Program seperti co-firing sorgum bisa menjadi titik awal perubahan yang melibatkan semua pihak: pemerintah, BUMN, petani, dan masyarakat luas.
Baca Juga : “PLTU Baru Berkapasitas 3,2 GW Beroperasi di 2025“











