Shutdown AS Rugikan Delta Airlines Hingga USD 200 Juta

Delta Airlines

Penutupan Pemerintahan AS Sebabkan Kerugian Besar bagi Maskapai

Delta Airlines mengungkapkan bahwa penutupan pemerintahan Amerika Serikat yang berakhir bulan lalu menyebabkan kerugian hingga USD 200 juta dalam laba sebelum pajak. Kerugian ini terjadi akibat penurunan tajam pemesanan tiket selama masa shutdown yang berlangsung lebih dari sebulan. Ini menjadi penutupan pemerintahan terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat.

Maskapai menyatakan bahwa dampak dari kehilangan pendapatan tersebut setara dengan sekitar 25 sen per saham dalam performa kuartal berjalan. Sebelumnya, pada bulan Oktober 2025, Delta telah memperkirakan laba kuartal IV yang telah disesuaikan akan berada pada kisaran USD 1,60 hingga USD 1,90 per saham. Namun, prediksi tersebut harus direvisi akibat tekanan yang muncul dari ketidakpastian birokrasi nasional.

Baca Juga : “UNTR Dirikan Anak Usaha Baru di Sektor Nikel dan Jasa“

Operasional Maskapai Terganggu, Jadwal Penerbangan Dibatasi

Selama periode shutdown, keterbatasan jumlah pengatur lalu lintas udara menjadi hambatan besar bagi maskapai penerbangan. Pemerintahan Trump saat itu meminta perusahaan maskapai mengurangi frekuensi penerbangan mereka untuk meringankan beban kerja petugas. Langkah tersebut diambil karena banyak pengatur lalu lintas udara dan staf keamanan bandara seperti TSA (Transportation Security Administration) harus bekerja tanpa menerima gaji.

Meski telah memangkas jadwal, keterlambatan dan pembatalan penerbangan tetap terjadi dalam jumlah tinggi. Sistem kontrol lalu lintas udara, yang sudah berada dalam tekanan sebelum shutdown, harus terus beroperasi tanpa dukungan penuh dari pemerintah. Hal ini mengakibatkan disrupsi operasional dan pengalaman pelanggan yang menurun, berdampak langsung pada pendapatan Delta Airlines.

CEO Delta Serukan Perlindungan Bagi Pekerja Industri Penerbangan

Ed Bastian, CEO Delta Airlines, secara aktif menyuarakan keprihatinan terhadap situasi yang dialami para pekerja di sektor transportasi udara. Ia dan jajaran eksekutif perusahaan mendesak para legislator di Washington untuk memberikan jaminan perlindungan terhadap pekerja esensial seperti pengontrol lalu lintas udara dan staf keamanan bandara jika shutdown kembali terjadi.

Menurut Bastian, keberlangsungan sektor penerbangan sangat bergantung pada stabilitas birokrasi dan perlindungan hak pekerja. Ia menekankan pentingnya mempertahankan kelancaran operasional agar maskapai tetap dapat memberikan layanan terbaik kepada pelanggan, serta memastikan tidak ada pihak yang dikorbankan karena konflik politik di tingkat federal.

“Para pekerja kami adalah tulang punggung industri. Mereka tidak boleh menjadi korban dalam situasi seperti ini,” tegas Ed Bastian, dikutip dari laporan resmi perusahaan kepada otoritas sekuritas menjelang konferensi industri, Rabu (3/12/2025).

Outlook Positif 2026 Meski Terhantam Shutdown

Meskipun tantangan besar dihadapi pada akhir 2025, Delta Airlines tetap melihat masa depan yang menjanjikan. Permintaan perjalanan udara tetap kuat, bahkan menunjukkan tren positif menjelang tahun 2026. Pemesanan tiket yang masuk pada kuartal pertama 2026 terus meningkat, menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen terhadap perjalanan udara mulai pulih.

Delta menyampaikan bahwa tren ini menjadi sinyal penting bahwa sektor penerbangan akan terus tumbuh, meskipun ada hambatan sementara seperti shutdown pemerintahan. Hal ini juga menunjukkan daya tahan maskapai dalam menghadapi ketidakpastian eksternal.

Shutdown Berdampak Luas terhadap Ekosistem Penerbangan

Kasus Delta Airlines bukan satu-satunya yang terdampak. Shutdown pemerintahan AS menimbulkan efek domino pada seluruh rantai layanan perjalanan. Bandara mengalami kekurangan tenaga, kontrol keamanan melambat, dan banyak penumpang membatalkan perjalanan karena ketidakpastian jadwal penerbangan.

American Airlines, United Airlines, dan maskapai besar lainnya juga melaporkan penurunan volume penumpang yang signifikan pada periode tersebut. Namun, Delta adalah salah satu maskapai pertama yang secara terbuka menyampaikan dampak finansialnya secara terperinci ke publik dan regulator.

Menurut laporan dari Airlines for America (A4A), asosiasi industri penerbangan AS, penutupan pemerintahan selama lebih dari 30 hari menyebabkan sektor penerbangan kehilangan potensi pendapatan lebih dari USD 500 juta secara nasional.

Penutup: Stabilitas Politik Jadi Faktor Penting untuk Industri

Delta Airlines menggarisbawahi bahwa industri penerbangan sangat rentan terhadap gejolak politik dan keputusan pemerintah. Shutdown pemerintahan yang berlangsung lama dapat merusak sistem transportasi secara luas dan mengganggu konektivitas nasional.

Dalam menghadapi tantangan ini, Delta tetap berkomitmen untuk menjaga operasional tetap berjalan, mendukung hak pekerja, dan mendorong adanya reformasi kebijakan agar peristiwa serupa tidak terulang. Maskapai juga mengajak semua pihak, termasuk regulator dan pelaku industri, untuk bersinergi dalam menciptakan ekosistem penerbangan yang tahan terhadap krisis administratif.

Delta Airlines berharap stabilitas politik dan kejelasan regulasi dapat menjadi prioritas pemerintah di masa mendatang, demi menjaga pertumbuhan sektor penerbangan yang vital bagi ekonomi Amerika Serikat dan dunia.

Baca Juga : “Sosok Pendiri Delta Airlines yang Pesawatnya Terbalik saat Kecelakaan di Kanada“

Exit mobile version