Perjanjian Strategis Akhir Tahun yang Perkuat Diplomasi Ekonomi RI
Indonesia mencatat tonggak penting dalam diplomasi ekonomi global dengan menandatangani Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) pada akhir Desember 2025. Perjanjian ini menjadi langkah konkret pemerintah dalam memperluas jaringan perdagangan internasional, khususnya di kawasan non-tradisional seperti Eurasia. Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso saat kunjungan resmi ke Rusia pada Minggu, 21 Desember 2025.
Langkah ini memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra dagang utama di kawasan Eropa dan Asia Tengah. Eurasian Economic Union (EAEU) mencakup lima negara strategis: Rusia, Armenia, Belarusia, Kazakhstan, dan Kirgizstan. Dengan kerja sama ini, Indonesia membuka akses lebih luas terhadap pasar yang sebelumnya belum tergarap secara maksimal, sekaligus mendorong diversifikasi pasar ekspor.
Baca Juga : “Indomobil Multi Jasa Setor Rp499 M ke Anak Usaha“
Kawasan Eurasia Kini Jadi Mitra Dagang Baru bagi Produk Indonesia
Kesepakatan I-EAEU FTA menjadi perjanjian perdagangan bebas pertama Indonesia dengan kawasan Eurasia. Kawasan ini menawarkan potensi pasar besar, baik untuk sektor industri, pertanian, energi, maupun teknologi. Uni Ekonomi Eurasia dikenal memiliki standar perdagangan yang semakin terbuka dan terintegrasi sejak didirikan pada 2015.
Berdasarkan data perdagangan 2024, total transaksi Indonesia dengan EAEU mencapai USD 4,52 miliar. Rinciannya, ekspor Indonesia sebesar USD 1,89 miliar dan impor sebesar USD 2,63 miliar. Posisi EAEU menjadi tujuan ekspor ke-24 dan asal impor ke-15 bagi Indonesia, menandakan peran kawasan ini yang semakin penting dalam neraca perdagangan nasional.
Airlangga Hartarto: Ini Tonggak Baru Diplomasi Dagang di Eropa
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyambut penandatanganan ini sebagai bagian dari rangkaian panjang kerja sama dagang RI di Eropa. Sebelumnya, Indonesia telah menjalin IEU-CEPA (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement) dengan Uni Eropa dan IE-CEPA dengan negara-negara EFTA seperti Swiss dan Norwegia.
“Ini sebuah milestone baru di Eropa. Hampir semua negara kini bekerja sama dengan Indonesia. Yang lainnya masih dalam proses,” kata Airlangga di Jakarta, Jumat, 26 Desember 2025. Ia menekankan bahwa pendekatan dagang RI kini menyasar pasar-pasar non-tradisional yang bisa memberi nilai tambah bagi ekspor Indonesia.
Dengan penandatanganan ini, Indonesia menunjukkan keseriusannya menjadi bagian dari ekosistem perdagangan global yang lebih luas dan beragam.
Budi Santoso: I-EAEU FTA Bukan Sekadar Simbolis, Tapi Langkah Nyata
Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan bahwa perjanjian ini bukanlah perjanjian simbolik semata. Ia menyebut I-EAEU FTA sebagai instrumen konkret yang akan menghasilkan manfaat ekonomi langsung, terutama bagi pelaku usaha nasional.
“Penandatanganan ini menjadi fondasi strategis untuk mendorong peningkatan perdagangan, investasi, dan bentuk kerja sama ekonomi lainnya,” ujar Budi dalam keterangan resmi. Ia juga menyampaikan pentingnya menyiapkan ekosistem pendukung seperti regulasi, logistik, dan mekanisme tarif untuk memastikan keberlanjutan implementasi FTA ini.
Lebih lanjut, Budi mengusulkan pembentukan Indonesia–EAEU Business Council sebagai wadah komunikasi antara pelaku usaha kedua pihak. Inisiatif ini diharapkan mempercepat pertukaran informasi bisnis, identifikasi peluang kerja sama, dan fasilitasi perdagangan yang lebih efisien.
Dampak Perjanjian: Potensi Penghapusan Tarif dan Akses Pasar Lebih Luas
Salah satu manfaat langsung dari perjanjian dagang bebas adalah pengurangan atau penghapusan tarif bea masuk. Dalam konteks I-EAEU FTA, produk-produk ekspor unggulan Indonesia seperti karet, minyak sawit, produk perikanan, tekstil, dan barang elektronik berpeluang mendapatkan tarif lebih kompetitif.
Sebaliknya, Indonesia juga bisa memanfaatkan impor bahan baku dan mesin industri dari kawasan Eurasia dengan biaya lebih rendah, yang dapat menunjang sektor manufaktur nasional. Akses pasar yang lebih besar ini dinilai strategis untuk mendongkrak daya saing ekspor RI secara global, khususnya dalam kondisi ekonomi dunia yang penuh tantangan.
Dalam jangka panjang, kesepakatan ini juga membuka jalan bagi kerja sama teknologi, pendidikan, dan infrastruktur yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.
Strategi Diversifikasi Pasar Ekspor Jadi Fokus Pemerintah 2026
Melalui kesepakatan ini, pemerintah mempertegas strategi diversifikasi pasar ekspor sebagai langkah memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Diversifikasi sangat krusial untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional seperti Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat.
Dengan menggandeng kawasan Eurasia, Indonesia berpeluang mengisi kekosongan suplai di tengah perubahan geopolitik dan dinamika ekonomi global. Langkah ini juga sejalan dengan arahan Presiden untuk menggenjot ekspor ke kawasan baru dan memperkuat kerja sama Selatan–Selatan (South-South Cooperation).
Kementerian Perdagangan sendiri telah menyiapkan tim teknis untuk memastikan seluruh protokol, harmonisasi standar produk, serta prosedur logistik dapat berjalan lancar pasca-penandatanganan I-EAEU FTA.
Sinergi Pemerintah dan Swasta Kunci Sukses Implementasi FTA
Keberhasilan implementasi perjanjian dagang bebas tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga partisipasi aktif dari sektor swasta. Pelaku usaha diharapkan proaktif mencari peluang di pasar Eurasia, mulai dari misi dagang, partisipasi pameran internasional, hingga eksplorasi kerja sama investasi.
Pemerintah juga akan memperkuat peran Atase Perdagangan dan perwakilan diplomatik di negara anggota EAEU untuk mendukung promosi produk Indonesia secara lebih intensif. Di sisi lain, kolaborasi dengan KADIN, Asosiasi Pengusaha Indonesia, serta pelaku UMKM juga akan menjadi prioritas dalam mendorong pemanfaatan FTA secara inklusif.
Penutup: I-EAEU FTA Jadi Langkah Strategis Hadapi Tantangan Global
Penandatanganan Indonesia-EAEU FTA merupakan langkah penting di tengah perlambatan ekonomi global dan gejolak geopolitik internasional. Perjanjian ini menandai keberhasilan diplomasi ekonomi Indonesia dalam memperluas jejaring dagang sekaligus memperkokoh posisi sebagai negara dengan ekonomi terbuka dan adaptif.
Pemerintah menargetkan peningkatan signifikan volume perdagangan dengan kawasan Eurasia pada 2026 dan seterusnya. Melalui harmonisasi regulasi, kesiapan infrastruktur ekspor, serta sinergi pemerintah dan pelaku usaha, I-EAEU FTA diharapkan memberi dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kerja sama ini bukan hanya soal dagang, tapi soal kepercayaan, saling membuka peluang, dan membangun kemitraan jangka panjang,” ujar Budi Santoso menutup pernyataannya.
Baca Juga : “RI Teken Perjanjian Dagang Bebas dengan EAEU, Peluang Baru bagi Produk Daerah Tembus Pasar Eurasia“
