Pemerintah Percepat Transformasi Ekonomi Digital RI

Transformasi Ekonomi

Perekonomian Digital Digenjot Menuju Target USD 360 Miliar

Indonesia kini memasuki fase penting dalam pembangunan ekonomi digital nasional. Pemerintah menargetkan nilai ekonomi digital mencapai USD 360 miliar pada 2030, meningkat tajam dari capaian USD 90 miliar pada 2024. Langkah ini menjadi bagian strategis dalam membentuk perekonomian yang inklusif, modern, dan berkelanjutan.

Transformasi digital nasional menjadi agenda prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029. Untuk mencapainya, pemerintah menggenjot percepatan adopsi teknologi dan investasi jangka panjang, termasuk melalui pengelolaan aset strategis negara.

Baca Juga : “PLN Beberkan Penyebab Terhambatnya Pemulihan Listrik Aceh“

Adopsi Pembayaran Digital Meluas, QRIS Jadi Pilar Pertumbuhan

Salah satu sektor kunci yang mendorong ekonomi digital adalah keuangan digital, terutama adopsi sistem pembayaran elektronik. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyoroti peningkatan pesat pemanfaatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

“Kita menyadari bahwa bersama peluang besar ini, muncul pula tantangan baru yaitu bagaimana memastikan keamanan sistem pembayaran,” ujar Airlangga saat pembukaan FEKDI dan IFSE 2025 di Jakarta, Selasa (9/12/2025).

Data dari Bank Indonesia menunjukkan hingga Semester I 2025, sudah ada 57 juta pengguna QRIS dan 39,3 juta merchant, di mana 93,16 persen adalah pelaku UMKM. Angka ini menandai kemajuan inklusi digital yang kuat di seluruh daerah.

Namun, Airlangga mengingatkan bahwa transformasi ini harus disertai dengan peningkatan literasi digital, keamanan data, dan kepercayaan publik terhadap sistem keuangan digital.

Digitalisasi UMKM dan Investasi Asing Jadi Prioritas Pemerintah

Pemerintah terus mendorong digitalisasi UMKM sebagai tulang punggung ekonomi lokal. Pelaku usaha kecil diberi akses terhadap teknologi, platform digital, serta pembiayaan berbasis teknologi finansial agar bisa naik kelas di era digital.

Di sisi lain, investasi asing juga digalakkan untuk memperkuat infrastruktur ekonomi digital. Pemerintah mempercepat masuknya investasi pada sektor strategis, seperti data center, jaringan 5G, dan pendidikan digital.

Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah membangun ekosistem yang mendukung talenta digital lokal dan menarik startup digital global untuk tumbuh bersama di Indonesia.

Danantara Didorong Jadi Motor Pendanaan Proyek Strategis

Untuk menopang ambisi besar ini, diperlukan skema pendanaan jangka panjang yang lebih fleksibel dari sekadar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah kini mengandalkan peran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sebagai pengelola aset strategis nasional.

Danantara dibentuk untuk menjadi instrumen keuangan negara yang mampu mengelola aset bernilai tinggi secara profesional, serta menarik minat co-investor global melalui model dana abadi (sovereign wealth fund).

CEO Danantara: Investasi Harus Dorong Transformasi Nasional

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa badan ini tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga bertugas memastikan dampak ekonomi nasional yang nyata.

“Mandat kami jelas: menghadirkan imbal hasil yang sehat bagi negara, sambil memperkuat ketahanan ekonomi dan mendorong transformasi nasional,” tegas Rosan.

Danantara, melalui unit Danantara Investment Management (DIM), bertugas menjalankan strategi investasi yang menggabungkan penempatan aset jangka panjang, baik di sektor privat maupun publik, dengan fokus pada arus kas stabil dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Fokus Investasi Digital dan Pengembangan Talenta Lokal

Ke depan, Danantara juga akan mengambil peran dalam pengembangan ekosistem ekonomi digital. Investasi diarahkan ke sektor infrastruktur digital, riset teknologi, dan inkubasi startup.

Selain itu, peningkatan kapasitas SDM digital juga menjadi target utama. Pemerintah mendorong kerja sama lintas sektor untuk mengembangkan kurikulum digital, pelatihan coding, dan pelatihan AI yang relevan dengan kebutuhan industri.

Langkah ini bertujuan membangun generasi talenta digital yang mampu bersaing secara global dan menopang transformasi digital di semua sektor, termasuk pemerintahan dan industri.

Kemandirian Ekonomi Lewat Aset Strategis Nasional

Peran Danantara bukan hanya soal investasi, tetapi juga strategi kemandirian ekonomi. Dengan memanfaatkan aset negara sebagai sumber daya produktif, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap utang luar negeri dan memperkuat posisi fiskal jangka panjang.

Langkah ini diyakini menjadi pondasi penting dalam pembangunan ekonomi hijau dan digital yang berkelanjutan, sekaligus membuka lapangan kerja baru, terutama di sektor teknologi dan kreatif.

Kolaborasi Multi-Pihak Jadi Kunci Sukses Transformasi Digital

Transformasi digital bukan tugas pemerintah semata. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar target ambisius ini bisa tercapai. Pemerintah, swasta, lembaga keuangan, akademisi, dan masyarakat harus berada dalam satu ekosistem sinergis.

Program seperti Gerakan Nasional Literasi Digital, adopsi teknologi di desa, dan akselerator startup lokal menjadi contoh nyata pentingnya gotong-royong dalam membangun masa depan digital Indonesia.

Menuju Ekonomi Digital yang Modern dan Berdaya Saing Global

Dengan strategi terukur, pendanaan inovatif, dan kepemimpinan yang solid, Indonesia kini berada di jalur yang tepat menuju ekonomi digital bernilai USD 360 miliar pada 2030. Visi ini tidak hanya tentang angka, tetapi tentang menciptakan masa depan inklusif, inovatif, dan berkelanjutan.

Transformasi ini akan menentukan daya saing nasional, memperkuat posisi Indonesia dalam rantai ekonomi global, dan menciptakan lapangan kerja baru yang berkualitas. Di tengah era perubahan cepat, membangun ekonomi digital berarti membangun masa depan bangsa.

Baca Juga : “Penyelesaian Sejumlah Tantangan Percepat Transformasi Digital“

Exit mobile version