Ahli Gizi Diminta Tak Hanya Berpikir Tekstual dalam Menyusun Menu MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah, tetapi kini juga diarahkan sebagai salah satu strategi penting dalam menjaga stabilitas harga bahan baku pangan. Hal ini disampaikan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, dalam acara sosialisasi di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Menurut Nanik, peran Ahli Gizi di setiap Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) sangat penting untuk memastikan efektivitas program. Mereka tidak hanya bertugas mencocokkan kandungan gizi dengan buku acuan, tetapi juga harus memahami dinamika pasar pangan. Keterbatasan pendekatan tekstual dalam pemilihan bahan pangan berisiko mendorong kelangkaan dan lonjakan harga.
“Kalau Anda hanya mengandalkan buku acuan, hanya pakai bahan itu-itu saja, maka akan terjadi kelangkaan dan harga bisa melonjak,” ujar Nanik dalam pengarahannya, Minggu, 14 Desember 2025, dikutip Selasa (16/12/2025).
Baca Juga : “Investor Wajib Tahu Peluang dan Risiko Investasi 2026“
Diversifikasi Bahan Baku Penting untuk Cegah Inflasi
Nanik menyoroti kecenderungan penggunaan bahan tertentu seperti pakcoy, wortel, buncis, dan kacang-kacangan dalam skala besar oleh dapur MBG di seluruh Indonesia. Bila hal ini tidak dibarengi dengan diversifikasi menu, maka potensi lonjakan harga bahan tersebut tidak bisa dihindari.
Ia mengingatkan bahwa para Ahli Gizi harus mampu mencari alternatif bahan pangan yang memiliki kandungan gizi serupa, tetapi dengan ketersediaan lebih luas dan harga yang lebih stabil. Ini menjadi bentuk tanggung jawab kolektif untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga di pasaran.
“Jangan sampai mereka menyusun menu yang itu-itu saja. Pemakaian terus-menerus dalam jumlah besar bisa memicu lonjakan harga,” tegas Nanik.
Nasib Petani Bisa Tertolong Lewat Intervensi Menu MBG
Lebih jauh, Nanik menjelaskan bahwa Program MBG juga berpotensi membantu menstabilkan harga produk pertanian yang sedang jatuh. Ia mencontohkan peristiwa saat harga kentang menurun drastis, membuat petani di Wonosobo dan Bandung mengalami kerugian besar. Intervensi cepat melalui instruksi kepada seluruh Kepala SPPG untuk menggunakan kentang dalam menu MBG terbukti efektif menaikkan kembali harga.
“Saya minta ke Pak Sony (Waka BGN Sony Sonjaya), instruksikan seluruh Ka SPPG gunakan kentang. Akhirnya harga kentang bisa naik,” jelasnya.
Namun, sebaliknya, ketika harga bahan tertentu melonjak tinggi di pasaran, para perancang menu MBG diminta untuk sementara waktu menghentikan penggunaannya dan beralih ke bahan alternatif. Pendekatan ini dimaksudkan agar harga tidak terus meningkat dan mencegah inflasi yang lebih luas.
Stabilitas Harga Komoditas Merupakan Misi Penting MBG
Salah satu misi besar dari Program MBG adalah menjadi alat kendali harga pangan secara nasional. Menurut Nanik, MBG dapat berfungsi sebagai penyeimbang antara permintaan dan ketersediaan bahan pangan. Jika diterapkan dengan strategi yang adaptif dan berbasis data, program ini mampu mencegah harga naik secara drastis maupun jatuh terlalu rendah.
“Ahli Gizi, tolong diperhatikan. Kita punya misi untuk menstabilkan harga komoditas, agar tidak melejit dan juga agar tidak terlalu jatuh,” ungkapnya.
Langkah ini menjadi penting karena sektor pangan memiliki kontribusi signifikan terhadap inflasi. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa kelompok bahan makanan selalu menjadi penyumbang utama inflasi, terutama pada musim panen yang gagal atau terjadi lonjakan permintaan.
Edukasi Gizi Jadi Tugas Tambahan SPPG di Sekolah dan Masyarakat
Selain peran teknis di dapur MBG, SPPG juga didorong untuk memberikan edukasi langsung kepada masyarakat, khususnya penerima manfaat. Nanik menyampaikan bahwa Kepala SPPG harus aktif menjadi pengajar di sekolah untuk menanamkan kesadaran pentingnya makanan bergizi sejak dini.
“Minta waktu satu jam menjadi guru di kelas. Jelaskan soal pentingnya makan bergizi,” ucapnya.
Selain itu, edukasi juga dapat diperluas melalui kerja sama lintas sektor. SPPG diharapkan berkolaborasi dengan Puskesmas, kader Posyandu, tim PKK, hingga perangkat desa untuk memberikan penyuluhan kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan masyarakat umum. Materi penyuluhan dapat meliputi pentingnya konsumsi gizi seimbang, keamanan pangan, serta pengenalan program MBG itu sendiri.
Pendekatan Kreatif di Dapur MBG Menarik Minat Anak Konsumsi Sayuran
Menariknya, kreativitas para relawan dapur dan Ahli Gizi juga menjadi sorotan positif dalam keberhasilan implementasi MBG. Beberapa SPPG bahkan menggunakan kostum karakter kartun saat membagikan makanan, menyisipkan hadiah kecil, atau membawakan camilan sehat sebagai daya tarik.
Pendekatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan antusiasme anak-anak terhadap makanan bergizi, terutama sayur-sayuran yang biasanya kurang diminati. Strategi semacam ini memperkuat misi MBG sebagai sarana pembelajaran gizi, bukan sekadar program bantuan makanan.
“Saya apresiasi yang pakai kostum kartun, bawa bonus jajanan sehat, atau hadiah untuk anak-anak. Itu kreatif dan berdampak langsung,” kata Nanik.
Menu MBG Harus Adaptif Terhadap Dinamika Pasar Pangan
Dalam konteks ekonomi nasional, pendekatan adaptif terhadap penyusunan menu MBG menjadi sangat krusial. Pemerintah menginginkan agar program ini tidak menjadi beban tambahan terhadap sistem distribusi bahan pangan, melainkan justru menjadi instrumen yang fleksibel dan responsif terhadap fluktuasi harga.
Ahli Gizi di lapangan perlu dilatih secara rutin untuk memahami mekanisme pasar, pola musiman ketersediaan bahan pangan, serta cara membaca tren harga di pasar lokal. Dengan begitu, mereka dapat menyusun menu yang tetap memenuhi nilai gizi, namun tetap ekonomis dan tidak membebani sistem pasok nasional.
Penutup: MBG Bisa Jadi Pilar Ketahanan Gizi dan Stabilitas Harga
Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya soal memberikan makanan sehat kepada anak-anak sekolah. Dengan peran aktif dari Ahli Gizi, koordinasi lintas sektor, dan pendekatan berbasis data, MBG berpotensi besar menjadi instrumen pengendali harga pangan sekaligus penopang ketahanan gizi nasional.
Langkah-langkah seperti diversifikasi menu, pengawasan penggunaan bahan baku, serta keterlibatan dalam edukasi gizi menjadi pondasi penting dalam mewujudkan tujuan tersebut. Ke depan, keberhasilan MBG akan sangat ditentukan oleh inovasi dan adaptasi semua pihak yang terlibat di lapangan.
Jika terus dijalankan dengan komitmen dan strategi yang tepat, MBG bisa bertransformasi dari sekadar program bantuan makanan menjadi instrumen vital dalam menjaga keseimbangan pangan nasional dan kesejahteraan petani.
Baca Juga : “Sukseskan Program MBG, Komisi B Dorong Kemudahan Permodalan UMKM“
