Krakatau Steel Rombak Direksi, Percepat Transformasi

Krakatau Steel

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) merombak jajaran direksi melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Tahun 2025. Perusahaan menugaskan susunan pengurus terbaru untuk mempercepat transformasi, menguatkan kinerja operasional, serta menjaga daya saing di tengah dinamika industri baja.

Perubahan hanya menyentuh dua posisi direktur. Kursi Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) beralih dari Agus Nizar Vidiansyah kepada Suryantoro Waluyo. Sementara jabatan Direktur Infrastruktur dan Operasi berpindah dari Utomo Nugroho ke Sidik Darusulistyo. Di saat yang sama, perseroan mempertahankan Dr. Akbar Djohan sebagai Direktur Utama untuk memastikan kesinambungan strategi.

Baca Juga : “Anak Usaha DOID Menang Gugatan Kontrak Tambang di Australia“

Dua Pos Direksi Berganti, Direksi Utama Tetap untuk Jaga Konsistensi Eksekusi

Krakatau Steel menata ulang fungsi SDM dan operasi karena dua area ini menjadi kunci untuk mempercepat eksekusi transformasi. Perubahan di level direksi biasanya bertujuan memperkuat kepemimpinan di lini yang paling menentukan efisiensi, produktivitas, dan disiplin implementasi program kerja.

Dengan formasi baru, perseroan menargetkan peningkatan kecepatan pengambilan keputusan, perbaikan tata kelola proses, serta konsolidasi program restrukturisasi yang sudah berjalan. Keputusan mempertahankan Direktur Utama juga memberi sinyal bahwa perusahaan ingin menjaga arah kebijakan agar tidak terputus saat fase eksekusi memasuki tahap yang lebih intensif.

Susunan Komisaris dan Direksi Terbaru yang Disahkan RUPSLB 2025

RUPSLB menetapkan jajaran pengurus perseroan sebagai berikut.

Dewan Komisaris

  • Komisaris Utama: Hendro Martowardojo
  • Komisaris Independen: Willgo Zainar
  • Komisaris Independen: David Pajung
  • Komisaris: Setia Diarta
  • Komisaris: Adityo Haryo Bimo

Direksi

  • Direktur Utama: Dr. Akbar Djohan
  • Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko: Daniel Fitzgerald Liman
  • Direktur Komersial, Pengembangan Usaha, dan Portofolio: Hernowo
  • Direktur SDM: Suryantoro Waluyo
  • Direktur Infrastruktur dan Operasi: Sidik Darusulistyo

Struktur ini menegaskan fokus perusahaan pada dua hal. Pertama, penataan operasi dan infrastruktur untuk memperkuat kemampuan produksi dan layanan. Kedua, penguatan fungsi komersial, portofolio, serta manajemen risiko agar transformasi berjalan dengan kontrol yang ketat.

Transformasi Disebut Selaras dengan Agenda Penguatan Industri Strategis Nasional

Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, menyampaikan bahwa capaian kinerja dan transformasi perusahaan sejalan dengan arah penguatan industri strategis nasional. Ia menekankan restrukturisasi sebagai fondasi agar perseroan dapat berkontribusi lebih besar pada kemandirian industri baja.

“Keberhasilan restrukturisasi yang tercermin dari laba, peningkatan produksi dan penjualan, serta penguatan struktur keuangan merupakan fondasi penting,” ujar Akbar Djohan dalam keterangan yang dikutip dari perseroan. Ia menyebut transformasi dijalankan secara disiplin dan berkelanjutan, dengan target daya saing yang lebih kuat.

Kinerja Kuartal III 2025: Laba, Efisiensi Biaya, dan Tren Produksi yang Menguat

Perseroan melaporkan laba bersih sebesar USD 24 juta pada Kuartal III 2025. Pada periode yang sama, perusahaan juga menurunkan biaya usaha 12% dibandingkan periode setara tahun sebelumnya. Dua indikator ini memperlihatkan penguatan kendali biaya di tengah upaya pemulihan industri.

Di sisi operasional, produksi baja konsolidasi hingga Kuartal III 2025 mencapai 740 ribu ton. Angka ini meningkat dibanding periode yang sama 2024 yang tercatat 540 ribu ton. Kenaikan produksi biasanya berkaitan dengan stabilitas pabrik, perbaikan utilisasi, dan eksekusi program operasi yang lebih rapi.

Krakatau Steel juga mencatat pertumbuhan penjualan baja konsolidasi dari 226 ribu ton pada Kuartal I, menjadi 244 ribu ton pada Kuartal II, dan naik lagi menjadi 269 ribu ton pada Kuartal III. Perusahaan menilai tren ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar, sekaligus menguatkan peran perseroan dalam pasokan baja domestik.

Penyesuaian Restrukturisasi: Perubahan Asumsi dan Jadwal Pembayaran Tranche

Corporate Secretary Krakatau Steel, Fedaus, menyatakan perseroan memandang dinamika pasar sebagai siklus yang perlu dikelola secara prudent menjelang 2026. Perusahaan menyebut fundamental usaha terus membaik, dengan nilai aset konsolidasi mencapai USD 825,3 juta yang ditopang tren pemulihan kinerja 2025.

Dalam konteks restrukturisasi, perseroan juga menyampaikan adanya penyesuaian asumsi signifikan sejak penandatanganan awal pada November 2024 hingga efektifnya Master Restructuring Agreement (MRA) 2024 pada Oktober 2025. Penyesuaian ini mencakup jadwal pembayaran kewajiban pokok Tranche A dan Tranche B serta beberapa ketentuan lain.

Perusahaan mengaitkan perubahan tersebut dengan rencana pengoperasian fasilitas secara mandiri dan bertambahnya kreditur peserta haircut. Dalam praktik restrukturisasi utang, perubahan asumsi dapat terjadi ketika rencana operasi, profil arus kas, atau struktur partisipasi kreditur bergeser.

Strategi 2026: Integrasi Logistik, Penguatan Kawasan Industri, dan Operasi Mandiri Pabrik

Krakatau Steel memperkuat infrastruktur pendukung bisnis melalui peningkatan kapasitas layanan dermaga kepelabuhan. Perusahaan juga mengembangkan konsep steel integrated logistics dan mendorong pengembangan Kawasan Industri Krakatau seluas 2.000 hektare. Langkah ini penting untuk menguatkan ekosistem industri baja terintegrasi, dari sisi pasok, logistik, hingga distribusi.

Sebagai bagian dari transformasi model bisnis, perseroan berencana menjalankan operasi fasilitas Hot Strip Mill (HSM) dan Cold Rolling Mill (CRM) secara mandiri. Perseroan menugaskan PT Krakatau Baja Industri sebagai pelaksana operation and maintenance. Krakatau Steel juga menempatkan diri sebagai pengelola rantai pasok terintegrasi dan pelaksana penjualan produk akhir, termasuk Hot Rolled Coil (HRC) dan Cold Rolled Coil (CRC).

Dalam konteks industri, kendali operasi mandiri bisa memberi ruang lebih besar untuk efisiensi biaya, kepastian kualitas, serta fleksibilitas produksi. Namun, strategi ini juga menuntut disiplin maintenance, kesiapan SDM, dan modal kerja yang cukup agar utilisasi pabrik tetap stabil.

Dukungan Pemegang Saham untuk Modal Kerja dan Likuiditas Operasional

Perusahaan menyebut transformasi turut diperkuat dukungan Danantara sebagai Pemegang Saham Seri B. Dukungan ini diwujudkan melalui Pinjaman Pemegang Saham (PPS) untuk memenuhi kebutuhan modal kerja pengoperasian fasilitas HSM dan CRM.

Fedaus menilai dukungan tersebut penting untuk menjaga kelangsungan operasional dan memperkuat likuiditas. Perusahaan juga mengaitkannya dengan implementasi program efisiensi, sehingga manajemen dapat fokus pada agenda transformasi dan penguatan daya saing.

Penutup: Perombakan Direksi Jadi Sinyal Fokus Eksekusi dan Kontinuitas Program

Perombakan dua posisi direksi menunjukkan Krakatau Steel ingin memperkuat titik-titik eksekusi yang langsung memengaruhi produktivitas dan efisiensi. Dengan Direktur Utama yang tetap, perusahaan menjaga kontinuitas arah transformasi di saat restrukturisasi dan operasi mandiri fasilitas memasuki fase yang lebih menuntut.

Ke depan, pasar akan menilai konsistensi implementasi, kualitas tata kelola, serta kemampuan perseroan menjaga profitabilitas di tengah fluktuasi permintaan baja. Jika tren efisiensi, peningkatan produksi, dan penguatan logistik berjalan selaras, Krakatau Steel berpeluang memperkokoh posisinya sebagai pemain strategis di industri baja nasional.

Baca Juga : “Krakatau Steel Diyakini bakal Kembali Jadi Tulang Punggung Industri Baja Nasional“

Exit mobile version