Indonesia Andalkan Gas Bumi untuk Kurangi Batu Bara

Gas Bumi

Pemerintah Percepat Transisi Energi Lewat Penguatan Peran Gas Bumi

Indonesia tengah memperkuat ketahanan energi nasional melalui strategi pengurangan batu bara dan peningkatan pemanfaatan gas bumi. Langkah ini menjadi bagian dari visi pembangunan jangka panjang yang tertuang dalam Asta Cita Pemerintah serta komitmen untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060.

Menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, proses menuju energi rendah karbon membutuhkan keberlanjutan dan konsistensi. Salah satu kunci keberhasilannya adalah mengurangi porsi batu bara dalam bauran energi nasional dan menggantikannya dengan gas bumi yang lebih bersih dan fleksibel.

Baca Juga : “Indonesia Siap Hentikan Impor, Swasembada Solar 2026“

Gas Bumi Jadi Energi Perantara Menuju Bauran Lebih Ramah Lingkungan

Gas bumi diproyeksikan menjadi tumpuan dalam masa transisi energi. Selain bersifat lebih ramah lingkungan dibanding batu bara, gas bumi memiliki keunggulan fleksibilitas untuk memenuhi kebutuhan sektor kelistrikan, industri, hingga rumah tangga.

“Gas bumi akan menjadi andalan di tengah menurunnya penggunaan batu bara. Ini energi jembatan yang dibutuhkan saat kita menuju energi terbarukan secara penuh,” ujar Laode saat memberikan keterangan pers, Jumat (2/1/2026).

Dalam skenario ini, gas bumi memainkan peran ganda: sebagai sumber energi primer dan juga sebagai bahan baku industri strategis yang mendukung pembangunan nasional.

PGN Fokus Perluas Akses Energi Gas Lewat Strategi G-A-S

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), sebagai Subholding Gas Pertamina, memimpin upaya memperluas pemanfaatan gas bumi secara nasional. Perusahaan menerapkan strategi transisi energi berbasis tiga pilar: Grow, Adapt, dan Step-Out, yang disingkat G-A-S.

Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN, Hery Murahmanta, menyampaikan bahwa pilar Grow diarahkan untuk memperluas infrastruktur jaringan pipa, terminal regasifikasi, serta layanan jaringan gas rumah tangga (jargas). Tujuannya adalah mendekatkan sumber energi ke pusat-pusat permintaan di seluruh Indonesia.

Pilar Adapt mendukung diversifikasi layanan energi melalui pengembangan bisnis LNG dan infrastruktur hulu domestik. Sementara pilar Step-Out mendorong pemanfaatan gas bumi ke sektor energi hijau, termasuk biomethane dan layanan transportasi karbon.

Infrastruktur Jadi Tantangan Kunci dalam Pemerataan Gas Nasional

Hery mengakui bahwa distribusi gas bumi nasional masih menghadapi hambatan struktural. Salah satunya adalah lokasi sumber gas yang berjauhan dengan pusat konsumsi utama, terutama di kawasan Indonesia timur. Selain itu, pengembangan infrastruktur kerap terkendala dari sisi keekonomian proyek.

“Untuk menjawab tantangan itu, kami mengintegrasikan berbagai jaringan transmisi dan distribusi dalam satu sistem terpadu, agar dapat menjembatani ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan,” terang Hery.

Integrasi ini mencakup pengelolaan sistem transmisi, regasifikasi, serta kolaborasi lintas lembaga dan badan usaha agar infrastruktur gas dapat tumbuh secara merata dan efisien.

Strategi Gas Bumi Dibedakan Sesuai Wilayah Indonesia

Strategi pengembangan infrastruktur gas bumi tidak seragam, tetapi menyesuaikan karakteristik geografis tiap wilayah. Di Indonesia bagian barat, PGN fokus menghubungkan jalur pipa utama dari Sumatera hingga Jawa. Jaringan ini diperkuat oleh sistem beyond pipeline untuk menjangkau area yang belum terhubung langsung.

Sebaliknya, di kawasan timur Indonesia, pendekatan lebih fleksibel diterapkan. Distribusi gas dilakukan lewat sistem modular dan beyond pipeline yang ditopang jaringan pipa skala menengah, guna menjangkau wilayah kepulauan dan daerah terpencil yang sulit dijangkau pipa utama.

“PGN menggunakan pendekatan fisik dan operasional dalam integrasi. Fisik dengan menyambung ruas-ruas pipa, operasional dengan menyatukan sistem regasifikasi dan transmisi dalam satu pengelolaan,” jelas Hery.

Digitalisasi Penyaluran Gas Tingkatkan Respons dan Efisiensi

Untuk menjaga keandalan layanan, PGN telah mengadopsi sistem digital dalam pengelolaan operasional distribusi gas. Teknologi ini memungkinkan pemantauan jalur distribusi secara real-time dan mempercepat respon bila terjadi gangguan teknis di lapangan.

Dengan sistem digitalisasi asset management, penanganan kendala distribusi menjadi lebih efisien, lintas fungsi, dan terkoordinasi secara menyeluruh. Hal ini secara langsung berdampak pada peningkatan layanan konsumen, baik di sektor industri maupun rumah tangga.

“Digitalisasi mempermudah kami dalam mengelola jaringan distribusi yang luas dan kompleks. Ini membuat proses pengambilan keputusan teknis menjadi lebih cepat dan akurat,” tambahnya.

Proyeksi Permintaan dan Kontribusi Gas Bumi ke Depan

Berdasarkan proyeksi Kementerian ESDM, permintaan gas bumi nasional akan terus meningkat hingga 2040. Kebutuhan sektor kelistrikan, transportasi, dan industri akan menjadi pendorong utama lonjakan konsumsi gas.

Gas bumi juga diyakini dapat menurunkan emisi karbon secara signifikan. Menurut data dari International Energy Agency (IEA), emisi karbon dari gas bumi hanya setengah dari batu bara untuk produksi energi yang sama. Oleh karena itu, gas bumi tetap relevan dalam konteks pembangunan berkelanjutan dan komitmen iklim global.

“Gas bumi adalah bagian tak terpisahkan dari strategi bauran energi Indonesia. Kami akan terus memastikan bahwa ketersediaan dan keandalannya terjaga,” pungkas Hery.

Penutup: Momentum Transisi Energi Perlu Dikawal Bersama

Peralihan menuju energi bersih tidak akan terjadi dalam semalam. Namun, langkah-langkah konkret seperti memperkuat peran gas bumi, memperluas infrastruktur, dan mengadopsi digitalisasi merupakan fondasi yang menjanjikan.

Kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta menjadi kunci untuk mengakselerasi transisi energi ini. Dengan arah kebijakan yang jelas dan implementasi yang konsisten, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan sistem energi nasional yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan.

Baca Juga : “Tambahan Beban Bagi Indonesia Akibat Andalkan Gas untuk Pembangkit Listrik Mencapai Rp155,8 Triliun“

Exit mobile version