Dukungan Infrastruktur Digital untuk Wilayah Terdampak Banjir dan Longsor
Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) melalui anak usahanya, AI Factory Lintasarta, menyalurkan bantuan konektivitas darurat ke sejumlah daerah bencana di Aceh dan Sumatera Utara. Bantuan tersebut berupa enam unit perangkat konektivitas berbasis satelit Starlink.
Perangkat-perangkat ini dipasang di enam titik prioritas. Lokasinya mencakup wilayah Lhokseumawe, Takengon, Langsa, dan Bener Meriah di Aceh. Sementara di Sumatera Utara, bantuan menjangkau Sibolga dan Langkat.
Pemasangan dilakukan bekerja sama dengan pemerintah daerah dan aparat lokal untuk memastikan perangkat digunakan secara optimal dalam situasi darurat.
Baca Juga : “Adhi Karya Bangun Apartemen Investasi Pilihan Baru“
Starlink Bantu Pemulihan Cepat Komunikasi di Wilayah Terisolasi
Presiden Direktur dan CEO Lintasarta, Bayu Hanantasena, menegaskan bahwa konektivitas menjadi elemen strategis dalam penanganan bencana. “Di tengah situasi bencana, konektivitas bukan sekadar layanan teknis, tetapi kebutuhan strategis untuk mempercepat koordinasi dan bantuan,” jelas Bayu pada Selasa (9/12/2025).
Starlink dipilih karena mampu menyediakan akses internet secara cepat dan stabil tanpa bergantung pada infrastruktur kabel yang mungkin rusak akibat banjir dan longsor.
Teknologi satelit ini sangat efektif digunakan di area yang sulit dijangkau jaringan konvensional. Dengan instalasi cepat dan cakupan luas, perangkat VSAT Starlink dapat langsung digunakan oleh masyarakat dan petugas di lapangan.
Penyaluran Bantuan Starlink Diperluas ke Posko dan Instansi Pemerintah
Bantuan konektivitas tidak hanya diberikan kepada warga terdampak, tetapi juga ditujukan untuk mendukung instansi pemerintah yang aktif menangani bencana. Distribusinya meliputi:
- Dua perangkat VSAT Starlink untuk posko darurat di Sumatera Utara.
- Dua perangkat untuk Pusat Informasi Media Center Komdigi di Aceh.
- Dua perangkat disalurkan melalui Bank Aceh untuk masyarakat.
Langkah ini menunjukkan komitmen Lintasarta dalam mempercepat pemulihan layanan komunikasi di tengah krisis.
Pemulihan Jaringan Fokus pada Layanan Perbankan dan Pemerintah
Selain bantuan darurat, Lintasarta juga melakukan akselerasi perbaikan infrastruktur jaringan. Fokus utama diarahkan pada sektor strategis seperti layanan keuangan dan instansi pemerintah.
Tim teknis diterjunkan untuk memperbaiki gangguan jaringan dan memastikan pelayanan publik tidak terhenti. “Kami berkomitmen memastikan warga tetap terhubung, apapun kondisinya. Teknologi harus hadir untuk kemanusiaan,” tegas Bayu.
Peran teknologi dalam fase tanggap darurat bencana menjadi sangat penting, terlebih saat infrastruktur dasar rusak atau lumpuh total.
TNI AD Pastikan Starlink Gratis hingga Akhir Desember
Di tengah beredarnya kabar soal dugaan pungli penggunaan perangkat Starlink, TNI Angkatan Darat memberikan klarifikasi resmi. Melalui Kepala Bagian Informasi Dispenad, Letkol Arm Sayed Syahrial, dipastikan bahwa layanan Starlink di lokasi banjir disediakan gratis hingga akhir Desember 2025.
“Pembayaran pulsa sudah digratiskan langsung oleh penyedia Starlink. Tidak ada pungutan biaya apapun kepada masyarakat,” kata Sayed di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Keterangan ini juga sekaligus meluruskan pernyataan KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak yang sebelumnya menyebut pihaknya belum mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas pembayaran layanan Starlink.
Perangkat Starlink TNI dan Kemhan Dikirim ke Titik Krisis
Dalam upaya memperluas akses komunikasi darurat, TNI AD dan Kementerian Pertahanan turut mengerahkan perangkat Starlink mereka sendiri. Total terdapat 33 unit dari Kemhan dan 5 unit dari Puskomlekad.
Perangkat-perangkat ini disalurkan ke berbagai Komando Distrik Militer (Kodim) di wilayah terdampak. Dari Kodim, Starlink kemudian dipasang di titik-titik kritis, seperti:
- Posko pengungsian
- Kantor pemerintah daerah
- Posko BPBD
- Area pencarian dan evakuasi
Proses instalasi dilakukan langsung oleh personel dari Komunikasi dan Elektronika Komando Daerah Militer XX/TIB.
Komunikasi Jadi Penentu Efektivitas Respons Darurat
Dalam situasi bencana, kecepatan komunikasi menjadi faktor kunci. Akses internet mendukung pelaporan real-time, distribusi logistik, dan penyampaian informasi kepada masyarakat.
Dengan hadirnya Starlink, berbagai hambatan teknis akibat jaringan rusak dapat diatasi dalam hitungan jam. Hal ini terbukti sangat membantu dalam mengefisienkan kerja TNI, BPBD, dan relawan di lapangan.
Menurut para ahli kebencanaan, konektivitas yang stabil sangat menentukan efektivitas mitigasi dan evakuasi pada masa-masa awal bencana.
Perangkat Starlink Juga Dukung Aktivitas Media dan Pemantauan
Penggunaan Starlink tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi internal. Beberapa perangkat juga digunakan oleh Media Center dan lembaga pemantau bencana untuk menyebarkan informasi ke publik secara luas dan cepat.
Dengan koneksi internet yang stabil, update kondisi di lapangan bisa disiarkan secara langsung, termasuk perkembangan cuaca, status banjir, serta kebutuhan logistik terkini.
Bank Aceh, sebagai mitra distribusi perangkat, juga memanfaatkan Starlink untuk memperlancar komunikasi keuangan dan layanan bantuan tunai bagi masyarakat.
Langkah Kolaboratif Antara Swasta dan Pemerintah
Penanganan bencana skala besar membutuhkan kolaborasi multipihak. Keterlibatan Indosat Ooredoo Hutchison, Lintasarta, TNI AD, dan Kemhan menunjukkan sinergi nyata antara sektor swasta dan pemerintah.
Langkah seperti ini patut diapresiasi dan direplikasi untuk respons cepat terhadap bencana lain di masa depan.
Penerapan teknologi tinggi seperti Starlink juga menunjukkan bahwa infrastruktur digital dapat menjadi pilar penting dalam strategi ketahanan nasional terhadap bencana.
Penutup: Konektivitas Bukan Lagi Pilihan, Melainkan Kebutuhan
Keberadaan konektivitas berbasis satelit Starlink di wilayah bencana Aceh dan Sumatera Utara adalah bukti bahwa teknologi mampu menjawab kebutuhan kemanusiaan secara langsung.
Dengan koneksi internet yang cepat dan stabil, proses penyelamatan, evakuasi, dan koordinasi bisa berjalan lebih efisien. Di tengah krisis, layanan digital menjadi penentu keselamatan dan keberlangsungan hidup masyarakat terdampak.
Langkah Lintasarta dan berbagai pihak lainnya patut menjadi contoh implementasi teknologi untuk kemaslahatan publik, khususnya dalam masa darurat bencana alam.
Baca Juga : “Starlink Minggir, China Mau Kirim 15.000 Satelit Buat Jajah Bumi“
